PENAJATIM – Selama lebih dari tiga periode kepemimpinan Wali Kota Malang, persoalan Pasar Gadang tak kunjung menemukan solusi menyeluruh. Kawasan yang dikenal padat, semrawut, dan rawan macet itu bertahun-tahun bertahan dalam kondisi seadanya. Kini, penantian panjang para pedagang mulai menemui titik terang setelah relokasi dan pembangunan pasar baru akhirnya direalisasikan pada 2026.
Relokasi pedagang Pasar Gadang ke lokasi baru dilakukan tanpa pungutan biaya bagi pedagang lama. Proses perpindahan bahkan disebut lahir dari kesepakatan dan keinginan para pedagang sendiri demi mendapatkan tempat usaha yang lebih layak dan tertata.
Koordinator Pembangunan Pasar Gadang, Abdul Qodir atau yang akrab disapa Abah Qodir, menegaskan relokasi berlangsung tanpa unsur paksaan. Menurutnya, kondisi pasar lama sudah tidak lagi nyaman baik bagi pedagang maupun pembeli.
“Ini murni keinginan pedagang sendiri. Tempat lama sudah kumuh, macet, tidak manusiawi. Mereka ingin ruang interaksi yang lebih maksimal dengan pembeli,” ujar Abah Qodir saat mendampingi Komisi C DPRD Kota Malang meninjau kawasan Pasar Gadang, Kamis (7/5/2026).
Abah Qodir mengaku telah berjualan buah grosir di kawasan Gadang sejak 2005. Ia menyebut wacana relokasi sebenarnya sudah lama muncul, namun baru bisa diwujudkan setelah Pemerintah Kota Malang menyediakan lahan untuk pasar baru.
Menurutnya, kepastian lokasi yang difasilitasi Wali Kota Malang, Wahyu Hidayat, menjadi alasan utama para pedagang bersedia pindah secara kolektif. Meski lahan tersebut berstatus sewa, para pedagang tetap menyambut positif langkah tersebut karena dinilai memberikan kepastian usaha setelah bertahun-tahun menunggu penataan.
Hal lain yang menarik, pembangunan pasar baru dilakukan secara swadaya penuh oleh pedagang. Pedagang lama yang memiliki izin resmi dipindahkan tanpa dipungut biaya sedikit pun.
“Nol persen. Tidak ada biaya untuk pedagang lama yang punya surat,” tegasnya.
Sementara biaya pembangunan fisik pasar dihimpun dari iuran pedagang yang ingin menambah unit kios atau bedak. Untuk sektor buah, tambahan unit dikenakan kontribusi sekitar Rp300 juta, sedangkan kios kecil sekitar Rp40 juta.
“Seluruh dana murni untuk pembangunan. Tidak ada pihak luar yang ikut memiliki kios,” jelas Abah Qodir.
Saat ini, sekitar 60 pedagang buah dan 40 pedagang ikan telah menempati lokasi baru. Meski fasilitas dinilai jauh lebih baik karena permanen dan tertata, para pedagang masih menjalani masa adaptasi, terutama terkait akses dan arus pembeli.
“Kondisi pembeli masih semburat. Parkir belum rapi, akses jalan belum maksimal. Banyak pelanggan setia belum tahu lokasi baru, masih komunikasi dengan pedagang,” ungkapnya.
Situasi tersebut membuat omzet pedagang sementara mengalami penurunan. Namun Abah Qodir optimistis kondisi ekonomi pasar akan kembali stabil setelah pembangunan kawasan rampung sepenuhnya.
Ia menambahkan, pengelola juga belum menetapkan besaran retribusi karena saat ini fokus utama masih menyelesaikan pembangunan fisik pasar.
Abah Qodir menargetkan pengerjaan gedung pasar selesai pada akhir Mei 2026. Setelah itu, perhatian akan diarahkan pada penataan parkir serta penyempurnaan akses jalan untuk menunjang kenyamanan pengunjung.
“Kalau gedung beres dan akses lancar, pembeli nyaman, ekonomi pasti balik normal. Bahkan lebih baik dari sebelumnya,” katanya.
Bagi para pedagang, perubahan ini menjadi momentum penting setelah puluhan tahun Pasar Gadang berada dalam kondisi yang minim penanganan serius. Dari kawasan yang identik dengan kekumuhan dan kemacetan, kini pasar tersebut perlahan bertransformasi menjadi pusat perdagangan yang lebih layak melalui gotong royong para pedagang sendiri.
“Ini bukan cuma pindah lapak, tapi naik kelas jadi pasar yang layak,” pungkas Abah Qodir.


















