PENAJATIM – Permasalahan banjir di Kota Malang kembali mencuat. Kawasan Soekarno-Hatta (Suhat) menjadi titik yang paling disorot, meski sebelumnya sudah dilakukan proyek pembenahan saluran drainase dengan nilai anggaran yang tidak sedikit.
Data yang dihimpun menyebutkan, proyek perbaikan drainase di wilayah tersebut menghabiskan dana sekitar Rp 32 miliar dari Pemerintah Provinsi Jawa Timur, ditambah kontribusi Rp 1,6 miliar dari Pemerintah Kota Malang. Namun, kondisi di lapangan menunjukkan banjir masih kerap terjadi saat hujan deras turun.
Wakil Ketua Komisi C DPRD Kota Malang, Dito Arief, menilai pendekatan pembangunan fisik saja tidak cukup untuk mengatasi persoalan tersebut. Ia mengingatkan agar anggaran besar yang telah digelontorkan tidak berakhir sia-sia.
“Jangan sampai anggaran besar itu terkesan percuma, sementara banjir masih terus terjadi dan dikeluhkan warga,” ujarnya.
Menurutnya, salah satu persoalan krusial terletak pada keberadaan bangunan yang tidak taat aturan. Ia menerima laporan adanya sejumlah bangunan yang justru mempersempit bahkan menutup jalur drainase.
“Saya mendapat laporan ada sekitar lima sampai enam bangunan yang menutup saluran air. Ini harus segera ditertibkan,” tegasnya.
Ia pun meminta Pemerintah Kota Malang bertindak lebih tegas. Terlebih, saat ini sudah tersedia Peraturan Daerah tentang Persetujuan Bangunan Gedung (PBG) yang dapat dijadikan dasar hukum untuk melakukan penertiban.
“Perda PBG sudah ada, itu bisa jadi dasar kuat bagi pemkot untuk bertindak. Tidak perlu ragu lagi,” jelasnya.
Dito juga menyoroti dampak yang ditimbulkan. Ia menilai ketidakpatuhan segelintir pihak justru merugikan masyarakat luas.
“Yang melanggar mungkin hanya beberapa bangunan, tapi dampaknya dirasakan ribuan warga. Ini jelas tidak adil,” imbuhnya.
Selain persoalan bangunan, ia turut menyinggung perilaku masyarakat yang dinilai masih kurang peduli terhadap lingkungan. Saat banjir terjadi, kerap ditemukan berbagai benda seperti kasur, lemari, hingga sampah rumah tangga yang terbawa arus dan menyumbat saluran air.
“Setiap banjir, kita temukan barang-barang seperti bantal, kasur sampai lemari ikut hanyut dan menyumbat drainase. Ini menunjukkan perilaku masyarakat juga perlu dibenahi,” pungkasnya.


















