MALANG, PENAJATIM – Denyut Kampung Warna-Warni Jodipan tak lagi sekadar soal cat cerah di dinding rumah. Di balik lorong-lorong penuh mural itu, mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) mendorong perubahan yang lebih mendasar: memperkuat kapasitas warga agar mampu menjadi pelaku utama dalam ekosistem wisata.
Program KKN tematik yang dijalankan kali ini berfokus pada penguatan kualitas sumber daya manusia dan pengembangan ekonomi kreatif. Bukan hanya mempercantik sudut kampung, mahasiswa berupaya menghadirkan strategi yang membuat Jodipan tetap relevan sebagai destinasi wisata edukatif dan berdaya saing.

Ketua Kelompok 13, Muhammad Syahva Putra Disa Rizki, menjelaskan bahwa kampung wisata memerlukan pembaruan gagasan agar tidak stagnan. Menurutnya, daya tarik visual perlu diimbangi dengan pengalaman yang bermakna bagi pengunjung.
“Fokus kami bukan hanya tampilan, tetapi bagaimana warga semakin siap dan percaya diri saat berinteraksi dengan wisatawan,” ujarnya.
Salah satu program yang dijalankan adalah Speaking Color, pelatihan komunikasi dasar bagi anak-anak. Program ini dirancang untuk membangun keberanian dan keterampilan berbahasa sederhana, sehingga generasi muda Jodipan lebih siap menyambut wisatawan, termasuk dari luar daerah maupun mancanegara.
Di sektor ekonomi kreatif, mahasiswa menginisiasi Sparkling Jodipan dan Jodipan Clay. Warga didampingi untuk mengemas produk minuman dan suvenir dengan sentuhan kreatif agar memiliki nilai jual lebih tinggi. Upaya ini diharapkan memperkuat perputaran ekonomi lokal sekaligus memperluas ragam oleh-oleh khas kampung.
Inovasi yang paling menyita perhatian hadir melalui program Warna Digital Jodipan. Mahasiswa memasang kode QR pada sejumlah mural. Setiap kode terhubung dengan narasi mengenai makna lukisan, sejarah kampung, hingga simbol budaya lokal Malang.
“Dengan QR ini, pengunjung tidak hanya berfoto, tetapi juga memahami cerita di balik mural yang mereka lihat,” jelas Syahva.
Digitalisasi tersebut memberi lapisan baru pada pengalaman wisata. Jodipan tidak lagi sekadar latar swafoto, melainkan ruang belajar terbuka tentang identitas dan perjalanan sosial masyarakatnya.
Pendekatan yang digunakan mahasiswa bertumpu pada interaksi sosial. Mereka membangun kedekatan melalui diskusi santai, mendampingi anak-anak belajar, hingga membeli produk warga sebagai bentuk dukungan langsung. Cara ini dinilai efektif menumbuhkan rasa memiliki sekaligus memastikan program berjalan partisipatif.
Perubahan mulai terlihat pada sikap warga dalam menyambut tamu. Kemampuan komunikasi yang semakin baik serta kesadaran membangun kesan positif menjadi modal penting bagi keberlanjutan kampung wisata tersebut.
Dosen pembimbing Jamroji, S.Sos., M.Comms., menilai program ini selaras dengan kebutuhan penguatan kawasan wisata berbasis masyarakat. Mahasiswa didorong menghadirkan solusi yang aplikatif dan dapat dilanjutkan secara mandiri oleh warga.
Seluruh program yang telah dirintis kemudian diserahkan kepada masyarakat untuk dikelola berkelanjutan. Mahasiswa tetap membuka ruang komunikasi sebagai bentuk tanggung jawab akademik dan sosial.
Melalui KKN ini, UMM menegaskan perannya sebagai perguruan tinggi yang tidak hanya menghasilkan gagasan di ruang kelas, tetapi juga menghadirkan dampak nyata di tengah masyarakat. Di Jodipan, warna-warni dinding kini sejalan dengan tumbuhnya kepercayaan diri dan daya saing warganya.


















