=========================================

Penjual Air Kendi di Stasiun Itu Ternyata Jadi Orang Nomor Dua Indonesia

Ilustrasi sosok yang ternyata menjadi orang nomor dua di Indonesia
banner 120x600

JAKARTA, PENAJATIM – Tidak ada yang lebih dramatis dari kisah hidup nyata. Dan kisah Try Sutrisno adalah salah satu yang paling keras sekaligus paling menginspirasi yang pernah ditorehkan dalam sejarah republik ini.

Bayangkan seorang bocah usia sepuluh tahun. Tubuh kecil, kaki telanjang, tangan menggenggam kendi berisi air bersih. Ia berdiri di peron stasiun, menawarkan dagangannya kepada siapapun yang mau membeli. Bukan untuk jajan. Bukan untuk mainan. Tapi untuk menyambung hidup keluarganya yang sedang terjepit di tengah kekacauan agresi militer Belanda.

Bocah itu adalah Try Sutrisno.

Ia tumbuh di Surabaya, bukan dari keluarga elite atau kalangan bangsawan. Situasi sulit masa penjajahan memaksanya menjadi tulang punggung keluarga di usia yang masih sangat belia. Ketika Belanda melancarkan agresi, ia dan keluarganya harus berpindah dari Surabaya ke Mojokerto. Situasi tersebut membuatnya terpaksa menghentikan pendidikan dan membantu keluarga dengan berjualan rokok, koran, hingga air minum di stasiun.

“Saya entrepreneurship tanpa modal waktu itu. Apa usaha yang tanpa modal? Saya berjualan air bersih pakai kendi. Saya jual di stasiun,” begitu Try pernah berkisah, sebagaimana terekam dalam wawancaranya di Metro TV, dengan nada bukan menyesali, melainkan bersyukur.

Setelah mengumpulkan modal dari hasil berjualan air, ia mengembangkan usahanya dengan menjadi loper koran hingga penjual rokok keliling. Tiga pekerjaan sekaligus dijalani seorang anak yang seharusnya masih bermain-main tanpa beban. Namun justru dari sinilah batu pertama fondasi karakter seorang negarawan mulai diletakkan, bukan di akademi militer, bukan di ruang sidang MPR, melainkan di peron stasiun yang panas dan berdebu.

Yang lebih mencengangkan, perjalanan itu tidak berhenti di stasiun. Keluarga Try sempat mengungsi ke Kediri, di mana ia kemudian menjadi pelayan bagi para pejuang. Tugasnya saat itu adalah membersihkan senjata dan melayani kebutuhan para tentara. Di sinilah benih cinta pada dunia militer mulai tumbuh. Bukan dari buku pelajaran, bukan dari ceramah patriotisme, melainkan dari menyaksikan langsung bagaimana para tentara republik berjuang mempertahankan tanah air dengan nyawa sebagai taruhannya.

Namun jalan menuju mimpinya pun tidak mulus. Setelah lulus SMA, Try mendaftar di Akademi Teknik Angkatan Darat (ATEKAD). Namun ia gagal saat pemeriksaan fisik. Meski demikian, kemampuan serta kerja kerasnya selama itu berbuah manis. Ia dilirik oleh Mayor Jenderal GPH Djatikusumo hingga dipanggil kembali. Ini merupakan peristiwa langka, karena jika calon sudah dinyatakan gugur, tidak akan menerima surat panggilan. Try Sutrisno adalah pengecualian dari aturan itu. Ia mengikuti tes ulang, lulus, dan pada 1959 resmi dilantik menjadi perwira dengan pangkat Letnan Dua.

Dari situlah roda nasib berputar dengan kecepatan yang tidak pernah dibayangkan oleh bocah penjual air kendi itu.

Pertemuannya dengan Soeharto dalam Operasi Pembebasan Irian Barat pada 1962 menjadi awal dari moncernya karier Try. Saat itu, Soeharto ditunjuk oleh Presiden Sukarno menjadi Panglima Komando Mandala yang ditempatkan di Sulawesi. Dua orang bertemu di medan operasi, dan pertemuan itu mengubah segalanya.

Perkenalan intens keduanya sesungguhnya terjadi pada 1972, ketika dalam sebuah seminar tentang “Pewarisan Nilai-Nilai 45” di Seskoad, Bandung, Mayor Try Sutrisno tampil memukau. Membawakan makalah berjudul “Masalah Pewarisan dalam TNI AD dan Integrasi TNI-Rakyat”, anak muda berwajah segar dan berperawakan gagah itu rupanya cukup tangkas. Penampilan itu pula yang membuat Pak Harto dan mantan wakil presiden Mohammad Hatta yang hadir terkesan.

Sejak malam seminar itulah bintang Try mulai bersinar tanpa bisa diredam. Jabatan demi jabatan datang susul-menyusul. Ia menjabat sebagai Kepala Staf Kodam XVI/Udayana, lalu Panglima Kodam IV/Sriwijaya pada 1979. Di Sumatera, kepemimpinannya dikenal sangat efektif, mulai dari menindak jaringan penyelundupan hingga memimpin operasi pelestarian lingkungan dengan mengembalikan gajah Sumatera ke habitat aslinya di Padang Sugihan. Seorang jenderal yang mengurus gajah di hutan Sumatera. Gambaran yang tidak biasa, namun justru mencerminkan luasnya tanggung jawab yang ia emban.

Puncaknya, di tahun 1993, ia berhasil menduduki kursi Wapres berkat dukungan penuh fraksi ABRI, menyingkirkan kandidat kuat BJ Habibie. Sebuah manuver politik yang mengejutkan banyak pihak, termasuk konon Soeharto sendiri yang sesungguhnya lebih condong ke nama lain. Namun Try terpilih. Bocah penjual air kendi itu kini duduk di kursi nomor dua kekuasaan Republik Indonesia.

Meskipun ada anggapan bahwa ia hanya berfungsi sebagai “ban serep”, Try memiliki peran penting dalam pemerintahan. Ia menjalankan tugasnya dengan cara yang khas, tidak berisik, tidak mencari sorotan, tetapi hadir dan bekerja. Gaya yang tidak jauh berbeda dari cara ia menjajakan air kendi di peron stasiun puluhan tahun silam: tekun, diam-diam, tanpa banyak mengeluh.

Bagi publik, kisah hidupnya menjadi gambaran nyata bahwa latar belakang sederhana bukanlah penghalang untuk meraih posisi tertinggi dalam pengabdian kepada negara.

Pada Senin, 2 Maret 2026, pukul 06.58 WIB, Try Sutrisno menutup mata untuk selamanya di RSPAD Gatot Soebroto, Jakarta, dalam usia 90 tahun. Ia pergi dengan tenang, sebagaimana cara ia menjalani hidupnya, tanpa drama, tanpa keributan.

Kendi air itu sudah lama kosong. Tapi warisan yang ditinggalkan oleh bocah yang pernah mengisinya tidak akan pernah habis.

banner 325x300

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *