=========================================

Perlunya Qiraah Qauliyah dan Kauniyah 

banner 120x600

Oleh : Prof. Dr. M. Zainuddin, MA. (Guru Besar Pascasarjana UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, Chairman of Yasmine Institute)

MALANG, PENAJATIM – AL-QURAN adalah kalam Tuhan yang diturunkan kepada Nabi Muhammad Saw. melalui Malaikat Jibril untuk pegangan hidup umat manusia, dan dihukumi ibadah bagi pembacanya. Ada tiga fungsi Al-Quran bagi manusia: Pertama sebagai hidayah (petunjuk) bagi orang-orang yang bertakwa dan bagi manusia secara umum (QS. al-Baqarah:1-2 dan1). Kedua sebagai peringatan bagi seluruh alam semesta (QS. Al-Furqan: 1 dan Al-Qalam: 52). Ketiga sebagai obat dan rahmat bagi orang mukmin (QS at-Takwir: 27).

Kapan Al-Quran Menjadi Petunjuk?

Kapan Al-Quran berfungsi sebagai hidayah. peringatan, obat dan rahmat? Al-Quran menjadi hidayah atau petunjuk jika dibaca, dipahami maknanya, diimani dan dipatuhi petunjuknya. Ibarat rambu-rambu lalu lintas, ia akan berfungsi jika dimengerti dan dipatuhi petunjuknya. Perlu diketahui, bahwa al-Quran berfungsi sebagai petunjuk (hidayah) dan peringatan itu berlaku umum, namun sebagai obat dan rahmat hanya khusus bagi orang beriman dan orang-orang yang bertakwa (muttaqin) saja.

Maka jangan heran jika kemudian banyak orientalis yang lebih paham dari kita, karena mereka mau menghafal dan menggali isi kandungannya dan mengaitkan dengan ilmu pengetahuan modern. Sebetulnya ini ironis, justru merekalah yang melakukan kajian mendalam tentang Al-Quran, sehingga muncul MK. Quranic Studies di Barat, tokoh-tokohnya seperti: Philip K. Hitti, Montgomery Watt, H.A.R Gibb, Thomas Stamford Raffles (1781-1826), William Marsden, (1754-1836), Cristian Snouck Horgonje (1857-1936). Jika para orientalis yang tidak beriman dengan Al-Quran mereka mau mempelajari secara serius untuk memperoleh informasi ilmiah, kenapa kita tidak? Kenapa selama ini kita banyak mengetahui informasi ilmiah justru lewat orang Barat yang sekuler? Bukan dari Al-Quran yang milik kita sendiri, yang nyata-nyata di dekat kita dan di telinga kita?.

Suatu contoh, kita tahu bahwa matahari berputar pada porosnya, bahwa asal muasal alam ini air, adalah dari ilmuwan Barat dan Filsuf Yunani. Kenapa tidak dari Al-Quran yang kita baca setiap hari? Misalnya dalam surat Yasin dan Al-Anbiya itu Allah berfirman: “Dan matahari berputar pada porosnya. Itulah ketetapan (takdir) Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui” (QS. Yasin:38); “Dan telah Kami jadikan segala sesuatu yang hidup ini  berasal dari air” (QS. Al-Anbiya’: 30). Apakah orang-orang kafir tidak mengetahui bahwa langit dan bumi, keduanya dahulu menyatu kemudian Kami memisahkan keduanya dan Kami menjadikan segala sesuatu yang hidup berasal dari air? Maka, tidak kah mereka beriman?

 

Membaca Ayat Qauliyah dan Kauniyah

Di sinilah maka pelunya kajian integrasi Islam dan sains. Berpadunya ayat qauliyah dan kauniyah, antara yang normatif dan historis dan antara yang deduktif dan induktif perlu dikaji secara serius. Di sini pula kekurangan kita yang baru berhenti pada membaca ayat-ayat qauliyah belum banyak membaca ayat-ayat kauniyah-nya.

Seorang filosuf Perancis yang bernama Al-Kiss Luazon menegaskan: “Al-Quran adalah kitab suci, tidak ada satu pun masalah ilmiah yang terkuak di zaman modern ini yang bertentangan dengan dasar-dasar Islam”. Dr. Rene Ginon –setelah masuk Islam kemudian berganti nama, Abdul Wahid Yahya– juga bercerita: “Setelah saya mempelajari secara serius ayat-ayat Al-Quran dari kecil yang terkait dengan ilmu pengetahuan alam dan medis, saya menemukan ayat-ayat Al-Quran yang relevan dan kompatibel dengan ilmu pengetahuan modern. Saya masuk Islam karena saya yakin bahwa Muhammad saw. datang ke dunia ini dengan membawa kebenaran yang nyata, seribu tahun jauh sebelum ada guru umat manusia ini”. Selanjutnya ia menegaskan: “Seandainya para pakar dan ilmuwan dunia itu mau membandingkan ayat-ayat Al-Quran secara serius yang terkait dengan apa yang mereka pelajari, seperti yang saya lakukan, niscaya mereka akan menjadi muslim tanpa ragu –jika memang mereka berpikir objektif — katanya” (Abdul Muta’al, 1980: 8).

Hasil penelitian Prof. Raichah dan Prof. M. Zainuddin tentang tartil Quran yang dibacakan pada bayi, demikian pula informasi Prof. Karlina Supeli mengenai penelitian yang dilakukan oleh para siswa MAN tentang tartil Quran dan musik untuk tumbuh-tumbuhan telah menghasilkan kesimpulan yang menarik dan kompatibel dengan perkembangan makhluk hidup. Ada perbedaan anak bayi yang dibacakan ayat-ayat Quran dengan yang tidak, demikian pula untuk tanaman.

Oleh sebab itu, seharusnya orang terpelajar (intelektual Muslim) memiliki potensi besar dalam mendekatkan diri kepada Allah (takwa), karena mereka banyak mengetahui informasi ilmiah melalui jagat raya ini. Semakin seseorang banyak mengetahui rahasia alam ciptaan Allah ini, maka semakin sadar akan kebesaran-Nya. Namun sebaliknya, jika  seseorang tidak banyak tahu tentang rahasia alam ciptaan ini, maka ia melihat kehidupan ini biasa-biasa saja, tidak ada kekaguman, bahkan yang terjadi malah memitoskan alam tersebut.

Suatu misal, seorang terpelajar akan memahami gerhana bulan atau matahari dan silih bergantinya siang dan malam itu sebagai fenomena alam yang sangat sistematis dan by design, bukan by accident. Tidak mungkin tanpa dirancang oleh Sang Kuasa Allah Rab al-‘Alamin. Dengan melihat fenomena alam seperti itu, maka si terpelajar akan merasa kecil di hadapan Ilahi Rabbi, lalu ia bersyukur, tunduk dan khusyu’ dengan melakukan shalat khusyuf al-Qamar dan kusuf al-Syams. Seraya mengucapkan Rabbana Ma Khalaqta Haza Bathila Subhanaka Fa Qina Azab al-Nar.

Tentu ini tidak dilakukan oleh orang awam yang tidak memahami rahasia alam ciptaan-Nya. Ini merupakan the miracle of nature created by the God. (Perhatikan pula QS. Al-Baqarah: 26). Orang kafir akan meledek Tuhan, dengan berkata: “Ngapain Tuhan menciptakan nyamuk yang hanya menyebabkan penyakit DB saja”. Maka jika kita tidak mau memikirkan ayat-ayat Allah termasuk golongan mereka (kafir). Namun orang yang beriman mengetahui, bahwa penciptaan nyamuk atau binatang yang lebih kecil darinya merupakan kebenaran yang nyata.

Itulah maka Al-Quran selalu mendorong manusia untuk belajar dan menambah bekal ilmu pengetahuan dan menggunakan akalnya secara maksimal. Dengan kemampuan akal itu diharapkan mampu melihat Allah Swt. melalui perenungan dan pengamatan akan ciptaan-Nya.

banner 325x300

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *