=========================================

Dari Limbah ke Laboratorium: Riset UB Lahirkan Sunscreen Anak Berbasis Rambut Jagung

0-0x0-0-0#
banner 120x600

PENAJATIM – Peluncuran produk BOUMI oleh Universitas Brawijaya (UB) menghadirkan pendekatan berbeda dalam industri perawatan anak, yakni menjadikan riset sebagai fondasi utama pengembangan produk. Salah satu inovasi yang mencuat adalah sunscreen berbahan dasar rambut jagung, hasil pengembangan lintas disiplin yang berangkat dari bidang teknologi pertanian.

Alih-alih berangkat dari kebutuhan industri kosmetik, penelitian ini bermula dari kajian terhadap limbah pertanian yang selama ini kurang dimanfaatkan. Rambut jagung atau corn silk yang kerap dianggap tidak bernilai, justru menunjukkan potensi signifikan setelah melalui analisis kimia. Peneliti menemukan kandungan senyawa aktif seperti ferulic acid dan flavonoid, yang memiliki kemampuan dalam menyerap radiasi ultraviolet.

Dr. Rosalina Ariesta Laeliocattley menjelaskan bahwa penelitian tersebut tidak berhenti pada identifikasi senyawa, tetapi dilanjutkan ke tahap formulasi produk. “Material yang selama ini terbuang ternyata menyimpan potensi sebagai agen pelindung terhadap paparan sinar UV,” ungkapnya. Ia menambahkan bahwa efektivitas bahan tersebut diuji melalui pendekatan in vitro dan in vivo guna memastikan tingkat perlindungannya secara ilmiah.

Dari serangkaian pengujian tersebut, formulasi yang dikembangkan mampu mencapai tingkat perlindungan SPF 30+, sebuah standar yang umum digunakan dalam produk sunscreen, terutama di wilayah dengan paparan sinar matahari tinggi. Temuan ini menunjukkan bahwa pemanfaatan rambut jagung telah melampaui tahap eksploratif dan memasuki fase validasi ilmiah yang terukur.

Dalam pengembangannya, aspek dermatologis juga menjadi perhatian utama. Dr. dr. Sinta Murlistyarini menekankan bahwa karakteristik kulit anak menuntut pendekatan formulasi yang berbeda dibandingkan orang dewasa. “Kulit anak memiliki lapisan pelindung yang lebih tipis dan lebih rentan terhadap iritasi, sehingga membutuhkan formulasi yang disusun secara khusus,” jelasnya.

Pendekatan berbasis bahan alami turut diperkuat melalui kajian minyak atsiri yang dilakukan oleh Prof. Warsito. Ia menegaskan bahwa senyawa aktif dari tanaman memiliki fungsi yang dapat diukur secara ilmiah, termasuk aktivitas antimikroba dan antiinflamasi. Dalam konteks ini, bahan alami tidak sekadar menjadi pelengkap, melainkan bagian integral dari struktur formulasi yang dirancang dan diuji secara sistematis.

Transformasi dari riset menjadi produk juga melibatkan tahapan hilirisasi yang kompleks, mulai dari standardisasi produksi hingga pengujian keamanan. Prof. Unti Ludigdo menyoroti pentingnya memastikan hasil penelitian tidak berhenti pada publikasi akademik. “Kami ingin memastikan bahwa hasil riset tidak hanya berhenti di jurnal, tetapi juga dapat diuji dan dimanfaatkan dalam kehidupan nyata,” ujarnya.

Dengan demikian, pengembangan sunscreen berbasis rambut jagung dalam produk BOUMI mencerminkan proses riset yang berlapis dan terintegrasi. Dimulai dari identifikasi potensi bahan, analisis kandungan, pengujian efektivitas, hingga formulasi produk akhir, keseluruhan tahapan tersebut menunjukkan bagaimana limbah pertanian dapat direkonstruksi nilainya melalui pendekatan ilmiah dan diterapkan dalam konteks yang sama sekali baru.

banner 325x300

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *