Oleh : Nico FN.
Suatu waktu di malam hari, nada dering panggilan di handphone saya berdering. Seperti biasa saya selalu merespon dengan baik siapa pun yang memanggil atau mengirimkan pesan melalui smartphone. Setelah saya angkat, panggilan dari sahabat karib yang sudah lama kenal di Malang. Cak Cholil. Wartawan senior, Surabaya Post yang biasa akrab disapa Bangho. Mungkin ada kabar menarik yang ingin disampaikan.
“Halo cak. Apa kabar,” sapaku seraya menambahkan gaya humor. Tumben nelpon malam-malam.
“Gini bang Nico mau ga join di media kita. Kamu tangani Jakarta ya? Sela Bangho tanpa basa-basi.
Lazimnya di saat kita menerima telepon dari seseorang, entah itu sahabat atau orang lain pikirkan selalu underestimate. Pikiran minor selalu menghampiri. “Jangan-jangan mau minjam uang atau narasi lain yang kurang bijak terhadap orang yang menelpon”.
Hal yang lumrah dan bisa dipahami, meski tidak semua orang berpikir minor seperti itu. Apalagi kalau momennya pas lagi badmood!
Ditawari pekerjaan tentu saja ini kabar yang menggembirakan. Kabar itu bagi saya merupakan Oase di padang gurun, manakala di negeri ini dilanda musim paceklik lowongan kerja (loker).
“Oke cak. Siap. Terima kasih,” kataku. Tak lama berselang obrolan lewat jaringan satelit pun berakhir.
Malam itu saya tidak perlu merepotkan diri untuk berpikir. Bagi saya ini adalah kesempatan untuk bekerja lagi sebagai seorang wartawan. Sahabat saya Bangho paham betul bahwa kami sama sama memiliki trah yang sama. DNA kami memang berprofesi sebagai jurnalis. Profesi pilihan hidup yang sepanjang hidup kami tak akan pernah tergantikan. Itulah sebabnya kami sama sama nyaris tak pernah tertarik dengan pekerjaan lain sekali pun itu menjanjikan. Di dunia politik kami anggapnya tabu karena tidak sesuai passion kami.
Tanpa disadari saya terjebak dalam malam panjang yang melelahkan. Menanti Terbitnya mentari untuk segera bekerja sebagai wartawan di PENA JATIM dan meleburkan diri dalam dunia kejar kejaran nara sumber. Pikiran terus menerwang jauh membuat saya susah tidur. Lupa bahwa malam itu seharusnya saya tidur dengan memeluk bunga bunga mimpi yang indah.


















