MALANG, PENAJATIM.COM – Suasana kekeluargaan mewarnai Kampus C Universitas Insan Budi Utomo (UIBU) Malang, Kamis 28 Mei 2026 malam. Usai menunaikan penyembelihan dan mendistribusikan daging kurban ke warga sekitar, sivitas akademika UIBU berkumpul dalam syukuran sekaligus jamuan makan malam Idul Adha 1447 Hijriah.
Berlangsung di Jalan Citandui No. 46, Purwantoro, Blimbing, Kota Malang Jawa Timur, acara ini menyatukan dosen, tenaga kependidikan, dan mahasiswa lintas suku serta agama. Aroma sate dan bakso dari daging kurban bercampur tawa, menciptakan nuansa rumah kedua bagi seluruh penghuni kampus.
Rektor UIBU Dr Nurcholis Sunuyeko, M.Si, atau akrab disapa Sam Rektor, hadir tanpa jarak. Ia duduk semeja, menyuapi suasana dengan candanya. Bagi Sam Rektor, perayaan ini jauh melampaui seremoni tahunan.
“Ini bukan sekadar agenda tahunan, tetapi juga tradisi untuk memperkuat persaudaraan di antara sivitas akademika,” tegasnya di tengah obrolan hangat.

Menurutnya, Idul Adha di UIBU adalah panggung nyata untuk meneguhkan nilai kebersamaan, gotong royong, dan toleransi. Kurban tidak hanya disembelih, tapi juga “disembelihnya sekat” yang memisahkan.
“Melalui momentum Idul kurban ini, kita semua lintas keyakinan ikut merasakan kebahagiaan bersama. Di UIBU, seluruh elemen kampus membaur tanpa sekat. Inilah implementasi nyata nilai-nilai kebudiutamaan yang selalu kita gaungkan,” ujar pria ramah tersebut.
Panggung toleransi itu terbukti nyata. Meja panjang dipenuhi mahasiswa Muslim dan non-Muslim. Sendok dan cerita bertukar tanpa canggung.
Ditempat tersebut, Afretina Alisa, mahasiswi Pendidikan Bahasa Inggris asal Flores NTT beragama Katolik, tak bisa menyembunyikan bahagianya. Bakso daging kurban jadi bukti bahwa perbedaan bisa disajikan seenak masakan.

“Saya sangat senang bisa merasakan langsung kebersamaan ini. Semua menu yang disajikan dari hewan kurban rasanya enak, terutama baksonya. Semoga kegiatan seperti ini terus berlanjut,” tuturnya sambil tersenyum.
Sementara Emanuel, mahasiswa Katolik asal Flores yang sudah 3 kali ikut perayaan ini, menyebut Idul Adha 2026 paling rapi dan bermakna.
“Di sini kami benar-benar bisa menjalin toleransi tanpa membedakan suku dan agama. Makan bersama seperti ini membuktikan bahwa perbedaan bukan penghalang untuk bersatu,” katanya.
Dengan jamuan malam itu, UIBU Malang kembali menancapkan pilar kebudiutamaan. Idul Adha 2026 bukan hanya perayaan, tapi deklarasi bahwa kampus adalah rumah besar bagi semua. (Ris).


















