Berita  

Layang-Layang dan Ruang Kreativitas Warga, MSSF 2026 Dorong Komunitas Naik Kelas

banner 120x600

PENAJATIM – Langit di atas Lapangan Layang-Layang Gadang 12B, Kecamatan Sukun, Kota Malang, menjadi ruang pertemuan berbagai komunitas selama dua hari, 8-9 Agustus 2026. Layang-layang tidak hanya diterbangkan sebagai permainan, tetapi juga menjadi medium untuk mempertemukan komunitas, menyalurkan kreativitas, sekaligus membuka peluang pengembangan ekonomi kreatif.

Geliat tersebut terlihat dalam Malang Solidarity Sky Fest (MSSF) 2026 yang ditutup pada Minggu (9/8/2026) sore. Festival yang mengusung tema “Bersatu di Langit, Melayangkan Kreativitas” itu mempertemukan pelayang dari berbagai wilayah Malang Raya dengan beragam aktivitas pendukung.

Pada hari pertama, sebanyak 64 tim dari sekitar 20 komunitas mengikuti lomba sambit. Peserta berasal dari sejumlah wilayah, di antaranya Gondanglegi, Singosari, Kota Malang dan Kota Batu.

Di luar arena kompetisi, MSSF 2026 juga menghadirkan bazar UMKM, pameran layangan hias, eksebisi bermain layang-layang dan lomba video konten. Format tersebut membuat festival tidak hanya bertumpu pada pertandingan, tetapi mempertemukan olahraga masyarakat, seni, komunitas dan aktivitas ekonomi dalam satu ruang.

Wakil Wali Kota Malang Ali Muthohirin menilai geliat komunitas seperti itu menjadi bagian dari potensi kreativitas yang dapat dikembangkan Kota Malang. Menurutnya, pembangunan kota tidak semata berkaitan dengan infrastruktur, tetapi juga bagaimana ruang kreativitas masyarakat dapat terus tumbuh.

“Bagian dari Malang Solidarity Sky Fest ini menunjang program kami, Dasa Bakti kami, Malang Tahes dan Kreativitas. Tidak hanya soal pembangunan fisik, tetapi juga bagaimana kita menjaga semua kreativitas yang muncul dan berkembang di Kota Malang,” ujar Ali.

Menurut Ali, kegiatan berbasis komunitas juga mempunyai peluang untuk memperkuat daya tarik Kota Malang. Karena itu, ia mendorong agar MSSF tidak berhenti pada satu penyelenggaraan, melainkan berkembang dari sisi skala maupun kualitas.

“Kita bangga dan bahagia, karena ini bisa meningkatkan daya jual Kota Malang. UMKM yang ada dalam acara juga bisa diperbesar, bisa diperbanyak lagi. Generasi muda juga bisa kita tumbuhkembangkan,” katanya.

Persinggungan antara komunitas dan ekonomi kreatif menjadi salah satu aspek yang ingin dikembangkan. Layang-layang tidak hanya diposisikan sebagai permainan, tetapi juga dapat melahirkan karya visual, konten kreatif, produk UMKM hingga aktivitas komunitas yang mempunyai nilai ekonomi.

Ali berharap ekosistem tersebut terus diperluas. Ia bahkan mendorong agar MSSF memiliki skala yang lebih besar pada penyelenggaraan berikutnya.

“Semoga acara ini bisa bertumbuh kembang, acaranya dan skalanya diperbesar. Informasi yang beredar di dunia, produknya sudah diekspor. Semoga komunitas layangan dan kreativitasnya semakin bertumbuh dan semakin berkembang,” tuturnya.

Di sisi lain, keberadaan komunitas menjadi unsur penting dalam menjaga kesinambungan aktivitas layang-layang. Ketua Perkumpulan Pelayang Seluruh Indonesia (PELANGI) Kota Malang Mohammad Saiful Hamzah sebelumnya mengatakan bahwa komunitas pelayang di Malang Raya telah berkembang selama puluhan tahun.

Regenerasi menjadi salah satu perhatian karena keberadaan layang-layang perlu diteruskan kepada generasi muda. Dalam konteks tersebut, kompetisi tidak hanya menjadi tempat mencari pemenang, tetapi juga menjadi pintu masuk bagi anak-anak untuk mengenal dunia layang-layang.

Saiful menyebut kategori anak dalam perlombaan sebelumnya pernah diikuti hampir 100 peserta berusia di bawah 12 tahun. Respons tersebut menurutnya menunjukkan masih terdapat ketertarikan anak terhadap permainan layang-layang ketika tersedia ruang untuk bermain.

Sementara itu, Ketua Pelaksana MSSF 2026 Deny Rahmawan menempatkan pertemuan antarkomunitas sebagai salah satu bagian penting dari festival.

“Agenda ini selain menjadi pembibitan dan ajang kompetisi, juga menjadi kesempatan silaturahmi,” kata Deny.

MSSF 2026 sekaligus menjadi bagian dari rangkaian peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan RI di Kota Malang. Festival tersebut juga dihadiri Kapolresta Malang Kota Kombes Pol Danang Setiyo Pambudi Sukarno, Kapolsek Sukun Kompol Ryan Wahyuningtyas, Kepala Diskominfo Kota Malang M Nur Widiyanto, anggota DPRD Kota Malang H. Rokhmad dan Kristina, Ketua KORMI Kota Malang Sofyan Edi Jarwoko, Sekretaris KONI Joko Purwosusanto, Kabid Olahraga Diaporapar Bagus, serta jajaran Kecamatan Sukun, Kelurahan Gadang dan unsur terkait lainnya.

Penyelenggaraan MSSF 2026 juga dikaitkan dengan agenda 1.000 event serta Dasa Bakti Pemerintah Kota Malang, khususnya Ngalam Tahes dan Ngalam Asik.

Namun, di balik ramainya festival, geliat layang-layang di Gadang memperlihatkan satu hal yang lebih luas: keberadaan komunitas dapat menjadi modal sosial untuk menghidupkan kembali aktivitas kreatif yang tumbuh dari masyarakat.

Bagi Kota Malang, tantangannya bukan hanya memperbanyak event, tetapi memastikan komunitas yang berada di balik event tersebut mempunyai ruang untuk berkembang. Ketika komunitas, kreativitas anak muda, UMKM dan ruang publik dapat bertemu, permainan sederhana seperti layang-layang pun berpeluang bergerak menjadi bagian dari ekosistem ekonomi dan kebudayaan kota.

banner 325x300

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *