PENAJATIM – Yudisium biasanya identik dengan suasana formal. Para mahasiswa berkumpul dalam ruang seremoni, mengenakan pakaian resmi, lalu mengikuti prosesi sebagai penanda berakhirnya masa studi. Namun, suasana berbeda terlihat dalam Yudisium Akbar Heppie Universitas Insan Budi Utomo (UIBU) Malang.
Sebanyak 1.106 mahasiswa yang masuk daftar eligible yudisium justru diajak merayakan akhir perjalanan akademiknya dalam atmosfer yang lebih santai, meriah dan penuh kegembiraan. Yudisium yang digelar di Kampus C UIBU, Jalan Citandui, Kota Malang, Jumat (7/8/2026), dikemas sebagai ruang kebersamaan seluruh fakultas.
Alih-alih menjadikan yudisium sebagai seremoni yang kaku, UIBU membawa konsep “Heppie” sebagai bagian dari pengalaman lulusan. Musik, hiburan dan suasana perayaan menjadi bagian dari rangkaian acara, termasuk penampilan DJ Leni Okta dan salah satu band asal Malang.
Ketua Pusat Pengembangan Bisnis UIBU, Dr. Novi Eko Prasetyo, M.Pd., mengatakan konsep tersebut tidak terlepas dari keinginan kampus menghadirkan pengalaman yang menyenangkan bagi mahasiswa setelah menyelesaikan masa studinya.
“Tujuan kami bagaimana kita bisa melayani mahasiswa dengan sebaik mungkin, sehingga mereka bisa happy selama mengikuti kegiatan Yudisium Akbar kali ini,” kata Novi.
Menurutnya, suasana yang dibangun dalam Yudisium Akbar juga berkaitan dengan cara UIBU memperlakukan para mahasiswa dari berbagai fakultas secara setara. Karena itu, agenda tersebut tidak dibuat terpisah berdasarkan fakultas, melainkan dipertemukan dalam satu momentum besar.
“Akbar ini diperuntukkan untuk semua fakultas tanpa membedakan satu dengan yang lainnya,” ujarnya.
Novi menilai pendekatan tersebut penting agar para lulusan tidak merasakan adanya perbedaan suasana maupun perlakuan berdasarkan fakultas masing-masing.
“Mahasiswa memiliki satu rasa yang sama, yaitu rasa happy,” katanya.
Yudisium Akbar tersebut sebenarnya bukan prosesi yudisium pertama yang dijalani para mahasiswa. Sebelumnya, masing-masing fakultas telah melaksanakan yudisium secara tersendiri. Agenda di tingkat universitas kemudian menjadi puncak rangkaian tersebut.
Hal itu disampaikan salah satu perwakilan UIBU yang menjelaskan bahwa yudisium fakultatif telah dilakukan beberapa kali sebelum acara Akbar digelar.
“Yudisium sudah dilaksanakan oleh fakultas-fakultas sebelumnya. Di Akbar ini adalah puncaknya, yang dikemas untuk menghadirkan rasa kebersamaan dari masing-masing fakultas,” jelasnya.
Dengan konsep tersebut, suasana yudisium tidak berhenti pada pengesahan kelulusan secara akademik. Para mahasiswa dari berbagai latar belakang keilmuan dipertemukan dalam satu ruang untuk menikmati momentum yang sama.
Total 1.106 mahasiswa tercatat dalam daftar eligible. Rinciannya, Program Studi Pendidikan Jasmani, Kesehatan dan Rekreasi (PJKR) menjadi penyumbang terbesar dengan 571 mahasiswa. Disusul Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (PBSI) 104 mahasiswa, Magister Pendidikan Olahraga 109 mahasiswa, Pendidikan Biologi 67 mahasiswa, Pendidikan Ekonomi 70 mahasiswa, Pendidikan Bahasa Inggris 64 mahasiswa, serta Pendidikan Matematika dan Pendidikan Sejarah masing-masing 52 mahasiswa.
Sementara itu, Teknik Mesin tercatat 15 mahasiswa dan Teknik Elektro dua mahasiswa.
Dari keseluruhan peserta, 783 mahasiswa merupakan lulusan jenjang S1. Sedangkan pada jenjang magister terdapat 109 mahasiswa. Sebagian peserta lainnya juga berasal dari jalur Rekognisi Pembelajaran Lampau (RPL), termasuk mahasiswa yang menempuh skema percepatan.
Jumlah tersebut mayoritas merupakan mahasiswa angkatan 2022 yang telah menyelesaikan tahapan akademiknya dan kini berada di penghujung perjalanan sebagai mahasiswa.
Konsep Yudisium Akbar Heppie kemudian menjadi cara UIBU memberi warna berbeda pada momen tersebut. Setelah melewati proses perkuliahan, tugas, ujian dan berbagai tahapan akademik, para mahasiswa tidak hanya datang untuk mendengarkan prosesi kelulusan, tetapi juga menikmati suasana perayaan bersama.
Novi mengatakan aspek pengalaman mahasiswa menjadi salah satu pertimbangan dalam konsep tersebut. Kampus ingin mahasiswa memperoleh benefit setelah melewati masa pendidikan mereka.
“Kami ingin semua mahasiswa mendapatkan gift atau benefit selama mereka kuliah di UIBU,” tuturnya.
Atmosfer yang dibangun pun menjadi pesan tersendiri. Bahwa berakhirnya masa kuliah tidak harus selalu ditandai dengan suasana yang tegang dan formal. Bagi 1.106 mahasiswa tersebut, yudisium justru menjadi kesempatan untuk berkumpul, bersenang-senang dan merayakan pencapaian sebelum memasuki fase kehidupan berikutnya.
Di tengah prosesi akademik yang tetap menjadi inti acara, musik dan hiburan membuat Yudisium Akbar UIBU terasa lebih seperti sebuah perayaan. Konsep inilah yang membuat agenda tersebut tampil berbeda dari gambaran yudisium pada umumnya.

















