PENAJATIM.COM – Kecepatan dalam layanan kesehatan sering kali menjadi garis tipis antara hidup dan kehilangan. Hal itu nyata dirasakan IH (55), seorang pasien dengan gangguan jantung yang berhasil melewati masa kritis berkat respons cepat, tanggap, dan humanis dari RS Hermina Malang.
Peristiwa itu terjadi pada Sabtu pagi (17/1/2026). IH datang ke rumah sakit dengan agenda pemeriksaan laboratorium sesuai arahan dokter. Namun, situasi berubah drastis ketika ia baru saja tiba di depan area rumah sakit sekitar pukul 09.00 WIB. Kondisinya mendadak menurun hingga akhirnya tak sadarkan diri.
Momen genting tersebut langsung direspons sigap oleh petugas keamanan. Tanpa ragu, pasien segera dibopong menuju Instalasi Gawat Darurat. Dalam hitungan menit, tim medis IGD mengambil alih penanganan dan menjalankan prosedur kegawatdaruratan secara terkoordinasi.
“Istri saya benar-benar dalam kondisi kritis. Tapi penanganannya sangat cepat dan terukur. Saya bersyukur, Alhamdulillah nyawanya bisa tertolong,” ujar Cholil Ozy, suami pasien, yang juga dikenal sebagai jurnalis senior.
Setibanya di IGD, IH langsung mendapat penanganan dari dokter spesialis bersama tim medis. Pemeriksaan intensif dilakukan untuk menstabilkan kondisi jantung pasien. Menurut Cholil, kecepatan pengambilan keputusan medis menjadi kunci penting dalam situasi tersebut.
“Tidak ada waktu terbuang. Semua petugas tahu apa yang harus dilakukan. Itu yang membuat kami sebagai keluarga merasa tenang di tengah kepanikan,” katanya.
Setelah kondisi mulai stabil, IH menjalani perawatan lanjutan secara intensif di kamar 615 lantai 3. Selama masa perawatan, keluarga merasakan pendekatan layanan yang tidak hanya profesional, tetapi juga penuh empati. Cholil menyebut beberapa perawat yang meninggalkan kesan mendalam, di antaranya Suster Elok dan Suster Nansy, yang dinilainya selalu sigap dan ramah dalam mendampingi pasien.
“Dokternya komunikatif dan fokus. Perawatnya cekatan, sabar, dan selalu menyapa dengan senyum. Itu hal sederhana, tapi dampaknya besar bagi psikologis pasien dan keluarga,” tuturnya.
Empat hari menjalani perawatan, kondisi IH terus menunjukkan perkembangan positif. Fungsi vital membaik dan pasien dinyatakan stabil oleh tim medis. Pada Selasa siang (20/1/2026), dokter akhirnya mengizinkan IH pulang untuk melanjutkan pemulihan di rumah dengan kontrol rawat jalan.
Kisah ini menjadi potret bagaimana sistem layanan kesehatan bekerja optimal ketika kesiapsiagaan, kompetensi, dan sentuhan kemanusiaan berjalan seiring. Layanan cepat dan tanggap yang ditunjukkan RS Hermina Malang sekaligus menegaskan komitmen rumah sakit tersebut dalam menempatkan keselamatan pasien sebagai prioritas utama.
“Kami terus berupaya meningkatkan kualitas pelayanan, khususnya di Instalasi Gawat Darurat, baik dari sisi kecepatan penanganan, ketepatan tindakan medis, maupun kenyamanan pasien dan keluarga,” ujar dr Arizki.
Di tengah meningkatnya tantangan layanan kesehatan, pengalaman IH menjadi pengingat bahwa rumah sakit bukan sekadar tempat berobat, tetapi ruang harapan. Ketika detik-detik krusial dijawab dengan kesiapan dan empati, nyawa pun mendapat kesempatan kedua.

















