MALANG, PENAJATIM.COM – Cuaca ekstrem yang diprediksi terjadi pada awal 2026 dinilai tidak hanya berdampak pada kondisi lingkungan, tetapi juga berisiko terhadap kesehatan masyarakat. Dosen Keperawatan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Ns. Zaqqi Ubaidillah, M.Kep., Sp.Kep.MB., menekankan pentingnya pencegahan dini untuk menghadapi kondisi ini.
“Cuaca ekstrem tidak bisa dipandang hanya sebagai perubahan cuaca semata, tetapi harus dilihat sebagai risiko kesehatan populasi,” ujar Zaqqi, Selasa (6/1/2026). Ia menambahkan bahwa cuaca ekstrem dapat memicu stres fisiologis kronik yang berdampak pada penurunan daya tahan tubuh.
Untuk menghadapi kondisi ini, Zaqqi menekankan pentingnya perubahan perilaku hidup bersih dan sehat, pemenuhan nutrisi seimbang, serta kecukupan cairan tubuh. “Langkah-langkah sederhana seperti mencuci tangan secara konsisten, memastikan keamanan makanan dan air minum, menjaga asupan gizi, serta memenuhi kebutuhan cairan sekitar 2–2,5 liter per hari untuk orang dewasa merupakan bentuk pencegahan yang sangat efektif,” katanya.
Zaqqi juga menyoroti kerentanan kelompok anak-anak, lansia, ibu hamil, penderita penyakit kronis, serta pekerja lapangan yang memiliki kapasitas adaptasi fisiologis dan psikososial lebih rendah. Perlindungan terhadap kelompok ini membutuhkan dukungan keluarga dan komunitas melalui pengawasan kesehatan, pengaturan aktivitas harian, pemenuhan nutrisi, serta lingkungan yang aman dan mendukung.
“Kesehatan mental dinilai memiliki peran penting dalam menjaga ketahanan tubuh. Stres dan kecemasan akibat cuaca ekstrem dapat meningkatkan hormon stres yang berdampak pada penurunan imunitas,” pungkasnya. (Zai).

















