MALANG, PENAJATIM.COM – Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali menorehkan prestasi membanggakan di tingkat nasional. Tim dari LSO Surya Teknik Sipil UMM berhasil meraih Juara 3 Kompetisi Jembatan Indonesia (KJI) 2025 pada kategori Jembatan Model Pelengkung yang diselenggarakan oleh Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (KemdiktiSaintek).
Tim UMM diketuai oleh Ayunda Elvandari, mahasiswa Teknik Sipil Fakultas Teknik angkatan 2022, dengan partnernya Akbar Nurfitriono, mahasiswa Teknik Sipil angkatan 2023. Ayunda menjelaskan bahwa persiapan mengikuti KJI 2025 telah dimulai sejak Juli hingga Agustus 2025 melalui penyusunan proposal desain jembatan. “Setelah itu kami menunggu pengumuman finalis pada awal September. Dari hampir 150 proposal yang masuk, hanya 10 tim yang lolos ke final untuk kategori pelengkung,” kata Ayunda.
Rangkaian kegiatan KJI-KBGI 2025 sendiri dilaksanakan pada 12-17 November 2025. Pada kategori jembatan pelengkung, proses perakitan jembatan dilaksanakan pada 15 November 2025, sementara malam awarding berlangsung pada 16 November 2025. Kompetisi ini mempertemukan perguruan tinggi dari seluruh Indonesia dan menjadi ajang unjuk kemampuan desain, ketepatan konstruksi, serta kerja sama tim.
Dalam kompetisi tersebut, tim UMM mengusung konsep jembatan optimum, ramah lingkungan, dan berorientasi masa depan yang selaras dengan visi Asta Cita menuju Indonesia Emas 2045. Ayunda menyampaikan bahwa konsep ini dipilih sebagai respons atas keterbatasan akses transportasi di Indonesia. “Kami juga mengembangkan konsep smart bridge, di mana jembatan dilengkapi sensor untuk mendeteksi potensi kerusakan. Dari sisi keberlanjutan, kami juga menerapkan efisiensi material dengan memanfaatkan kembali limbah pembuatan jembatan sebagai alat bantu perakitan,” ujarnya.
Meski demikian, perjalanan menuju podium tidak lepas dari tantangan. Ia mengungkapkan bahwa kendala terbesar justru muncul setelah pengumuman finalis. “Pada tahap fabrikasi, beberapa pekerjaan tidak selalu sesuai dengan timeline yang direncanakan, sehingga waktu latihan harus disesuaikan,” katanya. Untuk menyiasatinya, tim membagi peran secara jelas, mulai dari pengendalian proses fabrikasi di lapangan hingga penyusunan presentasi dan ornamen jembatan.
Menurut Ayunda, keberhasilan ini ditentukan oleh kerja sama tim yang solid serta proses trial and error yang dilakukan berulang kali. Prestasi ini menjadi kebanggaan tersendiri karena mampu mengembalikan nama LSO Surya ke podium setelah dua tahun terakhir belum meraih gelar juara. “Kami terus mengevaluasi desain hingga menemukan struktur yang paling efisien dan kuat. Selain itu, dukungan dari anggota LSO Surya juga sangat berpengaruh,” tuturnya.
Sementara itu, Dosen pembina tim, Dr. Ir. Moh. Abduh, MT., IPM., ACPE., menyampaikan bahwa kompetisi KJI-KBGI menuntut kesiapan tim secara menyeluruh. “Prestasi tidak cukup hanya mengandalkan kemampuan intelektual. Pengendalian emosi dan ego, ketangguhan mental, serta kerja sama tim yang baik menjadi kunci utama,” ujarnya. Ia menambahkan bahwa keberhasilan lahir dari perpaduan aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik yang berjalan selaras.
“Saya berharap capaian ini dapat menjadi motivasi bagi mahasiswa Teknik Sipil UMM lainnya untuk terus berinovasi, berani berkompetisi di tingkat nasional, serta mengharumkan nama universitas melalui karya-karya teknik yang berdampak bagi masyarakat,” pungkasnya. (Zai).

















