NUSAKAMBANGAN, PENAJATIM.COM – Menteri Imigrasi dan Pemasyarakatan (Imipas), Jenderal Polisi (HOR) (Purn.) Drs. Agus Andrianto, S.H., M.H., meninjau pelaksanaan panen perdana yang menjadi bagian dari program pembinaan Warga Binaan di Pulau Nusakambangan. Kegiatan tersebut berlangsung di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Terbuka Nusakambangan pada Kamis (17/04/2025), dan menandai langkah penting dalam mewujudkan ketahanan pangan melalui pemberdayaan warga binaan.
Panen perdana ini merupakan bagian dari 13 program akselerasi yang digagas oleh Menteri Agus, dengan tujuan mendukung ketahanan pangan nasional, serta memberikan keterampilan yang berguna bagi Warga Binaan. Program ini juga menjadi bagian dari upaya pemerintah untuk mewujudkan visi Asta Cita Presiden Prabowo Subianto.

Dalam kegiatan tersebut, Menteri Agus menyaksikan langsung panen padi varietas Inpari yang ditanam di atas lahan seluas dua hektare oleh 18 orang Warga Binaan. Diperkirakan, hasil panen padi ini dapat mencapai hingga tujuh ton pada periode pertama. Selain itu, Menteri Agus juga mengapresiasi program ketahanan pangan yang sedang dijalankan di Nusakambangan, yang menurutnya tidak hanya bermanfaat bagi warga binaan, tetapi juga memberikan peluang untuk mempersiapkan mereka agar lebih siap kembali ke masyarakat.
“Program ini kami laksanakan sebagai bagian dari upaya mendukung visi Asta Cita Presiden. Selain itu, kami berharap program pembinaan di bidang ketahanan pangan ini dapat memberikan keahlian kepada Warga Binaan agar mereka siap kembali berintegrasi dengan masyarakat,” ujar Menteri Agus Andrianto.
Dalam wawancaranya, Menteri Agus juga menekankan bahwa program ketahanan pangan ini memiliki potensi besar untuk memenuhi kebutuhan pangan Lapas, dengan adanya ketentuan bahwa minimal 5% bahan pangan yang digunakan harus berasal dari produk hasil pembinaan ketahanan pangan di Lapas.
Lebih lanjut, Menteri Agus juga mengungkapkan keyakinannya terhadap potensi pengembangan program serupa di seluruh Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) di Indonesia. Program ini tidak hanya mencakup pertanian, tetapi juga perikanan dan peternakan yang dapat membantu menciptakan peluang keterampilan bagi Warga Binaan.
Selain memanen padi, Menteri Agus juga melakukan panen jagung varietas hibrida di lahan seluas 6,2 hektar yang dimanfaatkan untuk pakan ayam petelur di Nusakambangan. Produksi telur yang dihasilkan kini mencapai lebih dari 1.400 butir per hari. Selain itu, beberapa produk perkebunan lainnya seperti sayur mayur, cabai, tomat, terong, dan timun juga turut dipanen dalam acara tersebut.
Dalam rangkaian kegiatan ini, Menteri Agus juga meninjau fasilitas peternakan kambing, kerbau, dan ayam, serta budidaya ikan. Tak hanya itu, ia juga meninjau persiapan budidaya udang vaname yang akan dikembangkan di area seluas 61,5 hektar di dua lokasi di Nusakambangan, yaitu Bantar Panjang dan Lapas Pasir Putih.
“Total luas area di Pulau Nusakambangan yang saat ini kami optimalkan untuk ketahanan pangan mencapai 167,194 hektar, dan masih ada banyak potensi yang bisa dikembangkan lebih lanjut,” tambah Menteri Agus.
Sebagai penutupan kegiatan, Menteri Agus meresmikan Training Center Lapas Kelas I Batu Nusakambangan, yang didukung oleh Yayasan Penerimaan Internasional Indonesia (YPII) Pemerintah Jepang. Pusat pelatihan ini diharapkan dapat meningkatkan kapasitas petugas Pemasyarakatan dalam melaksanakan tugas mereka di Nusakambangan.
Dalam kunjungan tersebut, Menteri Agus didampingi oleh Sekretaris Jenderal Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan (Kemenimipas), Direktur Jenderal Pemasyarakatan, Kepala Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BPSDM) Imipas, Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pemasyarakatan Jawa Tengah, serta jajaran pimpinan tinggi pratama di lingkungan Kemenimipas.
Kegiatan ini menegaskan komitmen pemerintah dalam mendukung program ketahanan pangan, sekaligus memberikan kesempatan bagi Warga Binaan untuk memperoleh keterampilan yang bermanfaat bagi kehidupan mereka setelah menjalani masa hukuman. Dengan adanya program-program seperti ini, diharapkan mereka dapat lebih siap menghadapi tantangan hidup di luar penjara dan berkontribusi lebih positif kepada masyarakat.

















