MALANG KOTA – Momentum peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-112 Kota Malang dimanfaatkan Wali Kota Malang, Wahyu Hidayat, untuk menegaskan pentingnya kerja bersama lintas elemen dalam menjawab tantangan zaman yang kian kompleks. Pesan itu disampaikan saat memimpin upacara peringatan di halaman Balai Kota Malang, Rabu (1/4/2026).
Di tengah suasana perayaan yang bertepatan dengan Idulfitri 1447 Hijriah, Wahyu juga mengingatkan agar nilai-nilai yang tumbuh selama Ramadan tidak berhenti sebagai ritual semata. Ia mengajak masyarakat mempertahankan semangat kebersamaan dan kepedulian sosial dalam kehidupan sehari-hari.

Perjalanan panjang Kota Malang sejak ditetapkan pada 1 April 1914, menurutnya, telah membentuk karakter kota yang tangguh sekaligus adaptif terhadap perubahan. Berangkat dari refleksi tersebut, tema “Ngalam Melintas, Bergerak Tuntas, Mbois Berkelas” diusung sebagai arah baru pembangunan yang berkelanjutan.
Tema ini, lanjutnya, bukan sekadar slogan, melainkan penegasan komitmen untuk menembus berbagai batas, menuntaskan program prioritas, serta meningkatkan kualitas kota di berbagai sektor. Ia menilai, dinamika global, perubahan sosial, dan kompleksitas perkotaan menuntut respons yang cepat dan terukur dari pemerintah maupun masyarakat.

Dalam konteks itu, Wahyu menekankan bahwa semangat “melintas” harus dimaknai sebagai keberanian berinovasi, termasuk dalam bidang teknologi, budaya, hingga tata kelola pembangunan. Upaya memperkuat identitas daerah pun menjadi bagian penting, salah satunya melalui pengembangan busana khas Kota Malang yang memadukan unsur sejarah, lokalitas, dan nuansa kolonial.
Dari sisi kinerja, ia memaparkan bahwa indikator makro Kota Malang sepanjang 2025 menunjukkan perkembangan positif. Indeks Pembangunan Manusia tercatat tinggi, angka kemiskinan dan pengangguran mengalami penurunan, sementara pertumbuhan ekonomi bergerak naik. Sejumlah capaian itu turut diperkuat dengan berbagai penghargaan di level internasional, nasional, hingga regional.

Meski demikian, ia mengingatkan agar capaian tersebut tidak menimbulkan rasa puas diri. Justru, menurutnya, keberhasilan itu harus menjadi pijakan untuk memperkuat kolaborasi dan menghadirkan inovasi yang lebih berdampak luas bagi masyarakat.
Ke depan, arah pembangunan Kota Malang difokuskan pada peningkatan kualitas sumber daya manusia, pertumbuhan ekonomi yang inklusif, penguatan lingkungan berkelanjutan, serta tata kelola pemerintahan yang responsif dan melayani. Melalui program prioritas dalam Dasabakti, pemerintah kota berupaya memastikan hasil pembangunan dapat dirasakan secara merata.
Ia menegaskan, ukuran keberhasilan pembangunan tidak hanya dilihat dari capaian angka atau penghargaan, tetapi dari peningkatan kesejahteraan dan kualitas hidup warga secara nyata.
Menutup sambutannya, Wahyu kembali mengajak seluruh warga untuk menjaga rasa memiliki terhadap kota. Ia berharap Malang tidak hanya berkembang secara fisik, tetapi juga kuat dalam karakter, budaya, dan daya saing masyarakatnya.


















