MALANG, PENAJATIM – Satu per satu anak-anak itu melangkah maju, menerima amplop dan hadiah dengan wajah berseri-seri. Di Pendopo Kecamatan Pujon, suasana haru dan bahagia menyatu dalam satu momen yang sulit dilupakan. Itulah potret Pekan Islami ke-XIX PT Anugerah Citra Abadi (ACA) yang kembali hadir menebarkan kebaikan di wilayah Malang Barat pada Jumat, 6 Maret 2026.

Tahun ini, Komisaris PT ACA, Iwan Kurniawan, turun langsung menemui ratusan anak yatim yang tersebar di tiga kecamatan sekaligus, yaitu Kasembon, Ngantang, dan Pujon. Total 770 anak menerima manfaat dari kegiatan yang sudah berjalan nyaris dua dekade ini. Perinciannya, sebanyak 158 anak berasal dari Kecamatan Kasembon, 289 anak dari Ngantang, dan 323 anak dari Pujon.
Perjalanan dimulai dari Pendopo Kecamatan Kasembon sebagai titik pertama, kemudian bergerak ke Pendopo Desa Sumberagung, sebelum akhirnya ditutup di Pendopo Kecamatan Pujon. Tiga lokasi, satu semangat, satu tujuan: memastikan setiap anak yatim di wilayah itu merasakan kehangatan di bulan Ramadan.
Yang membedakan Pekan Islami tahun ini dari sekadar kegiatan santunan biasa adalah hadirnya ratusan mainan yang dibagikan langsung kepada anak-anak. Bukan mainan sederhana, melainkan beragam jenis yang dipilih dengan cermat agar sesuai dengan dunia anak-anak. Boneka, permainan kartu uno, pistol air, kipas angin, lego, hingga mobil remot kontrol berukuran besar yang bisa dinaiki turut memeriahkan acara. Tawa dan keceriaan pun pecah di tiap sudut pendopo.

Di antara ratusan anak yang hadir, ada satu momen yang membuat seluruh hadirin terdiam sejenak sebelum akhirnya larut dalam haru. Erindra Elhaidar, siswa kelas 6 MI Raden Patah Madiredo, Pujon, maju ke depan dengan langkah ragu namun penuh harap. Bocah itu baru saja dinobatkan sebagai juara pertama Musabaqah Tilawatil Quran tingkat MI se-Kecamatan Pujon, dan Iwan Kurniawan menyiapkan kejutan istimewa untuknya: sebuah mobil remot kontrol berwarna biru-hitam berukuran besar yang bisa dinaiki.
Saat menerima hadiah itu, Erindra tidak kuasa menahan air matanya. Impian kecil yang selama ini hanya tersimpan dalam benaknya tiba-tiba menjadi nyata di hadapan banyak orang.
“Senang sekali, alhamdulillah mendapat hadiah mobil remot kontrol dari Pak Iwan. Saya tidak menyangka bisa mendapat hadiah yang sudah saya impikan sejak kecil. Semoga beliau panjang umur dan dilancarkan rejekinya,” ucap Erindra dengan suara bergetar, Jumat (6/3/2026).
Tangisnya bukan tangis kesedihan, melainkan luapan rasa syukur seorang anak yang tidak pernah menyangka doa kecilnya akan dijawab secepat itu.
Keharuan serupa juga dirasakan oleh para perangkat desa yang menyaksikan langsung kegiatan tersebut. Kepala Desa Pandesari, Mudawam, mengaku sangat bersyukur atas konsistensi PT ACA yang tidak pernah absen menggelar program ini setiap tahun. Baginya, kehadiran Pekan Islami bukan sekadar rutinitas seremonial, melainkan benar-benar memberi dampak nyata bagi anak-anak di wilayahnya.
“Terima kasih kepada PT ACA karena dengan adanya Pekan Islami ini dapat menyenangkan anak-anak yatim. Mudah-mudahan Pak Iwan diberikan kesehatan, mendapat barokah, sehingga ke depan dapat terus berbuat kebaikan seperti ini,” ujar Mudawam dengan tulus.
Ia pun menitipkan harapan lebih jauh, bukan hanya untuk keberlangsungan program, tetapi juga untuk efek menular yang ditimbulkannya. Mudawam berharap apa yang dilakukan Iwan Kurniawan dan PT ACA bisa menjadi cermin dan inspirasi bagi kepala desa lain maupun pengusaha di sekitarnya.
“Doa saya untuk anak-anak yatim semoga bisa menjadi anak yang mandiri, berprestasi, dan bisa mencontoh kesuksesan Pak Iwan. Semoga kegiatan seperti ini juga bisa dicontoh semua kepala desa,” tambahnya.
Delapan belas tahun sebelumnya, Pekan Islami PT ACA mungkin hanya dikenal sebatas kegiatan tahunan rutin. Namun memasuki edisi ke-19, program ini telah bertransformasi menjadi sebuah tradisi kemanusiaan yang dinantikan masyarakat Malang Barat setiap kali Ramadan tiba. Bukan karena besarnya nilai materi yang dibagikan, melainkan karena ketulusan yang menyertai setiap langkahnya.
Di balik senyum Erindra dan ratusan anak yatim lainnya yang pulang membawa mainan dan amplop santunan, tersimpan pesan yang jauh lebih besar: bahwa kepedulian yang dilakukan secara konsisten dan tulus, sekecil apapun, mampu meninggalkan bekas yang tidak mudah terhapus dari ingatan anak-anak yang tumbuh dengan keterbatasan.


















