Target Lima Emas Porprov 2027, Suliadi Winarno Resmi Pimpin Porserosi Kabupaten Malang

Prosesi pelantikan Ketua dan pengurus baru Porserosi Kabupaten Malang, Sabtu 7 November 2026.
banner 120x600

MALANG, PENAJATIM.COM – Tongkat estafet kepemimpinan Persatuan Olahraga Sepatu Roda Seluruh Indonesia (Porserosi) Kabupaten Malang resmi berpindah tangan. Suliadi Winarno kini memegang kendali organisasi setelah dilantik sebagai Ketua Umum baru, menggantikan Priyo Sudibyo, Sabtu (7/11/2026).

Prosesi pelantikan berlangsung khidmat dengan ditandai penyerahan bendera pataka dari ketua lama kepada ketua baru. Momen tersebut disaksikan langsung segenap pengurus serta perwakilan dari KONI Kabupaten Malang.

Bagi Suliadi, amanah ini datang bersama target yang tidak ringan. Ia harus menjaga status sepatu roda sebagai salah satu lumbung medali terbesar Kabupaten Malang, sekaligus menjawab tantangan regenerasi atlet yang selama ini menjadi pekerjaan rumah.

“Target dalam waktu dekat adalah menyiapkan Puslatcab, kita punya target di Porprov 2027 ini lima emas untuk Kabupaten Malang. Karena kemarin sudah paling banyak cabor di KONI Kabupaten Malang, kita harus mempertahankan itu,” tegas Suliadi.

Target lima emas itu bukan tanpa dasar. Pada Porprov sebelumnya, sepatu roda sukses menyumbangkan lima emas, dua perak, dan empat perunggu. Capaian tersebut membuat sepatu roda menjadi penyumbang medali terbanyak untuk kontingen Kabupaten Malang.

Namun di balik torehan itu, ada tantangan yang tidak bisa ditutup-tutupi. Regenerasi atlet putra dan putri masih tersendat. Kekuatan tim masih bertumpu pada atlet-atlet lama, sementara bibit baru belum mengalir deras.

Kondisi itu diakui langsung oleh Priyo Sudibyo. Ia menyebut, regenerasi menjadi program yang belum sempat tuntas di masa kepemimpinannya.

“PR-nya regenerasi atlet karena kita kekurangan banyak atlet dan regenerasinya agak tersendat. Atlet putri kita masih mencari, kalau atlet putri kita sudah ada bertahap, bahkan nanti di PON kita insyaallah bisa menurunkan atlet dari Kabupaten Malang,” ujar pria yang akrab disapa Bogank tersebut.

Meski demikian, Bogank tetap optimistis kepengurusan baru mampu melampaui capaiannya. Ia bahkan menantang Suliadi untuk tidak hanya menyamai, tetapi melampaui prestasi sebelumnya.

“Minimal bisa menyamai prestasi saya, bahkan kalau bisa lebih baik, terutama untuk nanti di Porprov 2027 di Surabaya,” katanya.

Pergantian ini bukan karena Bogank mundur dari dunia sepatu roda. Justru sebaliknya, ia naik kelas ke kepengurusan provinsi sebagai Wakil Ketua I Porserosi Jawa Timur.

Karena itulah, ia memilih tidak melanjutkan kepemimpinan di kabupaten. Menurutnya, tidak mungkin menjalankan dua jabatan strategis sekaligus secara maksimal.

“Pelantikan pengurus baru Porserosi Kabupaten Malang ini menggantikan saya, karena saya tidak mungkin di dua jabatan sebagai Ketua Porserosi Kabupaten Malang dan sebagai Wakil Ketua Umum Porserosi Jatim, maka saya pilih untuk tidak melanjutkan di Musyawarah Kabupaten kali ini. Saya naik ke provinsi,” jelas Bogank.

Dengan posisi barunya, Bogank kini menjadi milik Jawa Timur. Sementara Suliadi mendapat amanah untuk meneruskan pembinaan di Kabupaten Malang.

Untuk menjawab tantangan regenerasi dan mempertahankan prestasi, Suliadi tidak hanya mengandalkan cara lama. Ia membawa pendekatan baru yang lebih terukur.

Komposisi kepengurusan yang dilantik kali ini merupakan perpaduan pengurus lama dan tenaga baru. Yang menarik, ada keterlibatan kalangan muda berlatar belakang sport science.

Pendekatan ini diharapkan membuat pembinaan atlet lebih terukur, bukan sekadar berdasarkan feeling pelatih.

Salah satu inovasi yang mulai diterapkan adalah sistem analisis hasil pertandingan. Sistem yang dikembangkan Taufik dan sempat diuji di ajang Jatim Open ini dilengkapi rapor analisis progres pertandingan.

“Saat ini juga sudah menciptakan semacam rapor analisa hasil progres pertandingan. Sehingga dari adanya rapor itu akan memudahkan pelatih untuk menentukan arah pembinaan,” ungkap Suliadi.

Melalui rapor tersebut, perkembangan setiap atlet bisa dipetakan secara detail. Kekurangan dan keunggulan masing-masing individu bisa diketahui lebih cepat, sehingga program latihan bisa disesuaikan.

Dari sisi jumlah, Porserosi Kabupaten Malang sebenarnya tidak kekurangan modal. Saat ini tercatat ada sekitar 70 atlet, dengan 21 di antaranya sudah masuk program Pusat Latihan Cabang (Puslatcab) tahun ini.

Sisa atlet lainnya akan terus dipantau dan diberi kesempatan untuk naik kelas. Selain itu, pembinaan juga akan diperkuat melalui klub-klub yang tersebar di Kabupaten Malang.

“Sekarang sudah punya atlet kabupaten ada 70 atlet. 21 sudah masuk Puslatcab tahun ini. Jadi dari sisa 70 itu nanti akan ada tambahan-tambahan lagi. Tetap kita dorong untuk klub-klub yang ada di kabupaten ini untuk berkembang supaya dapat banyak tambahan peminatnya untuk sepatu roda ini,” kata Suliadi.

Saat ini ada lima klub yang menjadi bagian dari ekosistem pembinaan sepatu roda di Kabupaten Malang. Klub-klub inilah yang diharapkan menjadi pintu masuk untuk menemukan bibit potensial sejak usia dini, sekaligus memperluas minat masyarakat terhadap olahraga sepatu roda.

Dengan kombinasi pengalaman pengurus lama, energi pengurus baru, serta pendekatan sport science, Porserosi Kabupaten Malang kini memasuki era baru.

Ujian pertamanya sudah di depan mata: mempertahankan tradisi medali dan mewujudkan target lima emas di Porprov 2027 Surabaya. (lil).

banner 325x300

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *