=========================================

Seni Tak Pernah Berhenti: Kisah Aji, Pelukis Sketsa di Kajoetangan yang Menghidupkan Wajah-Wajah

Seni Tak Pernah Berhenti: Kisah Aji, Pelukis Sketsa di Kajoetangan yang Menghidupkan Wajah-Wajah
banner 120x600

MALANG, PENAJATIM.COM – Bayangkan berjalan-jalan di kawasan Heritage Kajoetangan, Malang, Jawa Timur, dan menemukan seorang seniman yang mampu menghidupkan wajah-wajah melalui sketsa. Aji, seorang pelukis sketsa berusia 42 tahun, telah membuktikan bahwa seni tidak mengenal kata “menyerah”.

Dari menggambar komik di SD hingga menjadi pelukis sketsa profesional, Aji telah menempuh perjalanan yang luar biasa. Dengan bakat otodidak dan semangat yang tak pernah padam, Aji telah berhasil menginspirasi banyak orang dengan karya seninya.

“Komi adalah senjata saya untuk menyampaikan kritik dan pendapat saya,” ujar Aji dengan senyum percaya diri, Minggu (12/4/2026( malam. Dengan gaya sarkas, satir, dan jenaka, Aji ingin karyanya bisa diterima semua kalangan dan menjadi sarana edukasi untuk publik.

Sebelumnya, Aji juga pernah menjadi bagian dari acara Car Free Day di Malang, di mana ia menampilkan karya-karyanya dan berinteraksi dengan masyarakat. “Saya ingin membawa seni ke jalan, agar orang-orang bisa lebih dekat dengan seni,” katanya.

Masa lalu, Aji juga telah mendirikan komunitas Akar Rasa, sebuah komunitas seni lukis di Batu, dan telah bergabung dengan komunitas pelukis Malang Raya. Ia berharap dapat terus mengembangkan bakatnya dan menginspirasi orang lain dengan karya seninya.

Aji, pelukis sketsa asal Dau Malang

Harga sketsa Aji? Cukup terjangkau, yaitu Rp 50.000 untuk ukuran A4. Meskipun belum menerima bantuan dari pemerintah, Aji tetap optimis dan terus berjuang sebagai pelukis sketsa.

Aji juga aktif membuat karya-karya terkait sejarah dalam seri komiknya, dan berharap agar wacana kritis terus selalu terbangun di seluruh kalangan masyarakat.

“Melukis bukan hanya tentang menghasilkan uang, tapi tentang mengekspresikan diri dan membuat orang lain bahagia,” ucap Aji disela melukis salah satu pelanggan di Jalan Basuki Rahmat, tepatnya di seberang Kantor Telkomsel Kota Malang.

“Ketika saya melukis, saya merasa puas dan bahagia, meskipun kadang penghasilan tidak stabil.”lanjut pria dua anak tersebut.

Dengan semangat dan dedikasi yang tak pernah padam, Aji membuktikan bahwa seni masih bisa menjadi sumber kehidupan, bahkan di era digital ini. (Zai).

banner 325x300

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *