Klik disini ========================================= Klik disini

Pesan Sosial Halal Bi Halal

Oleh : Prof. Dr. M. Zainuddin, MA, Guru Besar UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, Chairman of Yasmine Institute.

Prof. Dr. M. Zainuddin, MA, Guru Besar UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, Chairman of Yasmine Institute.
banner 120x600
Oleh : Prof. Dr. M. Zainuddin, MA, Guru Besar UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, Ketua Yasmine Institute.
VOICEOFJATIM – Pada Hari Raya Fitri umat Islam yang digolongkan oleh Allah menjadi orang yang mendapat kemenangan dan kembali ke fitrahnya semula. Idul fitri ada karena adanya shiyam Ramadhan, maka tidak ada nilai dan identitas fitri jika tidak ada pelaksanaan shiyam Ramadhan. Kenapa orang mukmin saat ini dikembalikan ke fitrahnya? Mari kita flash back dan kaji.Selama bulan Ramadhan hingga Syawal, seluruh karunia ditumpahkan oleh Allah kepada umat Islam. Bahkan di sepuluh akhir Ramadhan ada satu malam yang bernilai lebih baik dari seribu bulan, yaitu lailatul qadar.
Selanjutnya perintah zakat fitrah, yang dapat membersihkan dosa-dosa dan mengembalikan fitrahnya; apalagi jika dapat melanjutkan puasa 6 hari Syawal, yang nilainya setara dengan puasa satu tahun. Belum cukup dengan itu semua, kemudian dilaksanakan halal bi halal (saling memaafkan antar sesama, yang dapat menghapus dosa masa lalunya).
Bagi umat Islam, Syawal merupakan babak baru, babak kembali ke fitrah-nya, sebagaimana hadis Nabi: Setiap anak Adam dilahirkan dalam keadaan fitrah. Artinya, telah dianugerahi oleh Alla Swt potensi atau energi positif. Kedua orang tuanyalah yang membentuk mereka menjadi Yahudi, Nasrani dan Majusi. Nah inilah yang membedakan dengan teori “Tabularasa”-nya John Lock dan “innate ideas”-nya Plato.Dalam teori Tabulasa John Lock dinyatakan bahwa anak lahir seperti kertas putih, tergantung siapa yang akan memberi warna atau catatan. Artinya, bahwa anak tidak memiliki potensi apa-apa dan pasif. Ibarat gelas kosong juga. Sementara teori Plato mengatakan, bahwa realitas (being) itu ada karena akal-pikiran kita (mind). Teori ini kemudian dikembangkan oleh para pengikutnya seperti Rene Descartes dengan diktum populernya: cogito argo sum (aku ada karena aku berpikir). Dan akhirnya juga berkembang diktum lain: Kamu adalah apa yang kamu pikirkan. Tampaknya-olah teori-teori ini sama dengan teori Islam. Padahal ini berbeda.

Dalam konsep Islam, anak lahir sudah memiliki potensi atau energi positif. Ibarat baterai sudah ada isinya. Tinggal men-charge lebih (full charge). Intinya maka hakikat pendidikan adalah mengembangkan potensi: mengasuh, merawat dan mengembangkan potensi sampai menjadi manusia yang berpengetahuan dan terdidik dengan baik. Maka terminologi tarbiyah itu berasal dari kata Raba-yarbu-rabban, rububiyatan atau Rabba-yurabbi-tarbiyatan. Seperti sifat rububiyyah Tuhan yang memelihara alam jagad raya ini.

Namun karena perkembangan waktu dan semakin dewasanya anak, sehingga pengaruh luar tidak bisa dibendung, banyak virus dan energi negatif yang masuk. Sehingga manusia tidak bisa mengelak dari dosa. Maka kemudian Nabi mengingatkan: “Setiap anak Adam itu bersalah dan sebaik-baik orang yang bersalah itu bertaubat (Kullu Bani Adama khatthaun wa Khair al-Khtthaina at-Tawwabun).

Di sinilah sesungguhnya Idul Fitri itu merupakan reformasi tahunan (tajdid sanawi) atau pemutihan diri. Tapi semua itu masih bersifat vertikal ke ranah teologis, belum ke ranah sosiologis. Maka belum tuntas, dan ini harus disempurnakan dengan saling memafkan dengan satu sama lain. Salah satunya melalui halal bi halal, yang merupakan realisasi dari wal ’afinan ’aninnas (QS. Ali Imran: 133).

Tajdid Sanawi (Annual Reformation)

Maka bulan Syawal ini merupakan momentum yang paling tepat bagi umat Islam untuk saling memaafkan di antara mereka, ber-halal-bihalal, sebagai bentuk penghapusan dosa secara horizontal dan massal (reformasi tahunan), pemutihan diri tahunan (annual bleaching). Jadi, jika kebijakan Gubernur Jawa Timur ada pemutihan pajak kendaraan bermotor, maka Tuhan lebih dari itu, pemutihan dosa.
Sebagaimana diriwayatkan oleh Muslim dari Abu Hurairah: “Suatu hari Nabi pernah bertanya kepada para sahabatnya: Atadruna man al-Muflis? Tahu kalian, siapakah yang disebut orang pembukaan atau pailit itu? Orang bangkrut adalah, orang yang saat menghadap Allah di hari berhenti dengan membawa pahala shalatnya, puasanya, zakatnya, tetapi pada saat hidup di dunia ia suka berbuat zalim (mengganggu saudaranya, tetangga, merampas hak orang lain dst.) dan pada saat meninggal belum sempat meminta maaf kepada mereka.
Maka seluruh amal kebaikannnya dipindahkan ke yang dizalimi dan kemudian ia dicampakkan ke neraka.” Nah di sini pentingnya dimensi sosial dalam ajaran Islam. Bahkan tidak hanya dimensi sosiologis, namun juga dimensi kosmologis. (Perhatikan QS. Al-Qashash: 77).
Di era digital dan modern ini, tradisi positif seperti silaturahim yang dibangun oleh orang tua kita dulu sudah semakin punah. Hal ini karena kehidupan modern cenderung materialistis dan individualis. Orang bersedia berteman jika ada kepentingan kerja atau bisnis. Di kota-kota besar misalnya, antara tetangga satu dengan tetangga yang lain tidak saling mengenal karena rumah mereka sudah dibatasi oleh pagar dan dinding tembok yang tinggi.
Serupa yang diramalkan oleh Alvin Toffler, bahwa zaman modern akan melahirkan manusia-manusia impersonal, manusia yang tercerabut dari nilai-nilai kemanusiaannya. Pengaruh IT dan perangkat media sosial lainnya, seperti handphone dan android juga mereduksi nilai silaturrahim yang tidak lagi bertatap muka, tetapi sudah digantikan dengan face book dan aplikasi lainnya, termasuk pembelajaran di kelas dengan dare dan online.
Namun sialnya, umat Islam masih memiliki tradisi-tradisi baik yang perlu dilestarikan untuk mengatasi dampak modernisasi tersebut, seperti: tadarrus al-Qur’an, tahlil dan yasin berjamaah, berzanji dan diba’, majlis-majlis ta’lim, baik di tingkat RT maupun RW. Tradisi tersebut merupakan salah satu bagian dari bentuk ukhuwuah islamiyah, ukhuwah basyariyah dari sekian tradisi baik lainnya yang ada dalam ajaran Islam dan tradisi Islam Nusantara.
Tradisi silaturrahim, saling berkunjung ke saudara, tetangga dan kawan, memuliakan tamu, adalah merupakan prilaku positif yang diajarkan oleh Islam. Bahkan ditegaskan oleh Nabi: Jika orang ingin dilapangkan rizkinya dan diperpanjang umurnya maka supaya terjalin silaturahim.
banner 325x300

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *