Dalam konsep Islam, anak lahir sudah memiliki potensi atau energi positif. Ibarat baterai sudah ada isinya. Tinggal men-charge lebih (full charge). Intinya maka hakikat pendidikan adalah mengembangkan potensi: mengasuh, merawat dan mengembangkan potensi sampai menjadi manusia yang berpengetahuan dan terdidik dengan baik. Maka terminologi tarbiyah itu berasal dari kata Raba-yarbu-rabban, rububiyatan atau Rabba-yurabbi-tarbiyatan. Seperti sifat rububiyyah Tuhan yang memelihara alam jagad raya ini.
Namun karena perkembangan waktu dan semakin dewasanya anak, sehingga pengaruh luar tidak bisa dibendung, banyak virus dan energi negatif yang masuk. Sehingga manusia tidak bisa mengelak dari dosa. Maka kemudian Nabi mengingatkan: “Setiap anak Adam itu bersalah dan sebaik-baik orang yang bersalah itu bertaubat (Kullu Bani Adama khatthaun wa Khair al-Khtthaina at-Tawwabun).
Di sinilah sesungguhnya Idul Fitri itu merupakan reformasi tahunan (tajdid sanawi) atau pemutihan diri. Tapi semua itu masih bersifat vertikal ke ranah teologis, belum ke ranah sosiologis. Maka belum tuntas, dan ini harus disempurnakan dengan saling memafkan dengan satu sama lain. Salah satunya melalui halal bi halal, yang merupakan realisasi dari wal ’afinan ’aninnas (QS. Ali Imran: 133).
Tajdid Sanawi (Annual Reformation)

















