MALANG, PENAJATIM.COM – Suasana berbeda terasa di Lembaga Pemasyarakatan Perempuan (LPP) Kelas IIA Malang siang itu. Bukan sekadar kunjungan dinas biasa, Menteri Imigrasi dan Pemasyarakatan Republik Indonesia, Agus Andrianto, memilih untuk duduk bersama warga binaan, menyantap makan siang, dan berbagi kisah kehidupan penuh makna.
Dikelilingi semangat dan yel-yel para warga binaan di lapangan Bimbingan Pemasyarakatan (Bimpas), Menteri Agus mengawali kunjungannya dengan pesan yang membangkitkan optimisme. Ia mengajak semua yang hadir untuk tidak menyerah pada takdir yang sulit.

“Tuhan tidak akan mengangkat seseorang tanpa ujian yang berat,” tuturnya, menggugah hadirin untuk memaknai proses pembinaan sebagai langkah menuju perubahan yang lebih baik.
Dalam sesi tanya jawab, Menteri Agus menegaskan komitmen pemerintah terhadap hak-hak warga binaan. Ia memastikan bahwa remisi dasawarsa tetap diberikan bagi mereka yang aktif mengikuti program pembinaan, termasuk yang bertugas sebagai linmas di dalam lapas. Kepastian ini disambut hangat sebagai bentuk keadilan sekaligus penghargaan atas ikhtiar positif warga binaan dalam memperbaiki diri.
Tak berhenti di ruang makan bersama, Menteri juga menyempatkan diri mengunjungi blok hunian ibu dan anak di dalam lapas. Ia meninjau fasilitas serta berbincang dengan para ibu yang tengah menjalani masa pidana sambil mengasuh buah hatinya.

Selain itu, ia juga melihat langsung berbagai karya tangan kreatif warga binaan, dari batik, kerajinan tangan, hingga olahan makanan. Hasil pembinaan ini menjadi bukti bahwa di balik tembok tinggi, potensi tetap tumbuh dan harapan tetap menyala.
Kepala Lapas Perempuan Malang, Yunengsih, mengungkapkan rasa bangga atas kunjungan ini. Baginya, ini bukan hanya seremonial, melainkan bentuk pengakuan atas kerja keras seluruh elemen lapas dalam menciptakan suasana pembinaan yang humanis dan memberdayakan.
“LPP Malang menjadi lapas perempuan pertama yang dikunjungi untuk makan siang bersama warga binaan. Ini menjadi energi baru bagi kami untuk terus meningkatkan kualitas pembinaan dan mencetak pribadi yang mandiri dan lebih baik,” ujarnya.
Kunjungan ini mencerminkan paradigma baru dalam sistem pemasyarakatan: bukan hanya tentang menjalani hukuman, tapi tentang memulihkan harapan dan membangun masa depan. Sikap empatik dan kehadiran langsung pejabat tinggi negara menjadi simbol bahwa setiap warga binaan tetap memiliki kesempatan kedua.






























