PENAJATIM – Pelantikan Handi Priyanto sebagai Sekretaris Daerah definitif Kota Semarang menandai dimulainya babak baru konsolidasi birokrasi di lingkungan Pemerintah Kota Semarang. Namun di balik prosesi pelantikan tersebut, tersimpan pekerjaan rumah besar yang langsung menanti mantan Kepala Bapenda Kota Malang itu, yakni menjaga stabilitas fiskal daerah sekaligus meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD) tanpa membebani masyarakat.
Di tengah tren penurunan Transfer Ke Daerah (TKD) dari pemerintah pusat, Pemerintah Kota Semarang mulai mempersiapkan strategi baru untuk memperkuat kemandirian keuangan daerah. Latar belakang Handi sebagai figur birokrat pendapatan menjadi alasan utama dirinya dipilih memimpin birokrasi Kota Semarang.
Wali Kota Semarang, Agustina Wilujeng, secara terbuka mengakui kebutuhan mendesak akan sosok sekda yang mampu mengorkestrasi kekuatan fiskal daerah di tengah tantangan ekonomi dan derasnya arus investasi yang masuk ke ibu kota Jawa Tengah.

“Tantangan positif yang hari ini harus dijawab adalah bagaimana meningkatkan PAD dengan menutup kebocoran dan melakukan intensifikasi. Saya kira itu sangat bisa direalisasikan,” ujarnya usai pelantikan, Senin (18/5/2026).
Menurut Agustina, keberadaan sekda definitif juga akan mempercepat ritme pengambilan keputusan di internal pemerintahan. Selama beberapa waktu terakhir, posisi tersebut diisi penjabat sementara sehingga distribusi tugas dinilai belum optimal.
“Sekarang roda pemerintahan berjalan dengan squad yang penuh,” katanya.
Pemilihan Handi sendiri disebut melalui proses seleksi terbuka yang berlangsung sekitar tiga bulan sejak Februari 2026. Dari empat kandidat yang lolos tahap penyaringan, tiga nama akhirnya diajukan Badan Kepegawaian Negara kepada wali kota untuk dipilih satu nama terbaik.
“Saya pilih yang nilainya paling besar,” tegas Agustina.
Masuknya Handi ke birokrasi Kota Semarang juga dibaca sebagai langkah strategis menghadapi fase baru pembangunan kota metropolitan yang kini diburu investasi nasional maupun asing. Pemerintah kota mulai memproyeksikan Semarang tidak hanya sebagai pusat perdagangan dan jasa, tetapi juga simpul investasi berbasis pariwisata, ketahanan pangan, dan lingkungan hidup.
Agustina mengungkapkan, tahun 2026 akan difokuskan pada penguatan sektor pangan dan lingkungan, sedangkan 2027 diarahkan pada pertumbuhan ekonomi berbasis investasi dan pariwisata. Karena itu, birokrasi diminta tidak lagi hanya mengandalkan pendekatan administratif internal.
“Kita tidak bisa sendiri. Kalau hanya bertumpu pada kajian internal, kita akan terlambat membaca peluang,” ujarnya.
Sementara itu, Handi Priyanto menegaskan dirinya siap menjadi penggerak utama koordinasi antar-Organisasi Perangkat Daerah (OPD). Ia mengibaratkan posisi Sekda sebagai konduktor yang bertugas memastikan seluruh instrumen birokrasi berjalan harmonis sesuai visi kepala daerah.
“Tugas Sekda itu mengorkestrasi OPD agar visi dan misi kepala daerah bisa berjalan efektif dan efisien,” katanya.
Meski mendapat mandat meningkatkan PAD, Handi memastikan tidak akan menggunakan pendekatan yang membebani masyarakat melalui kenaikan pajak daerah. Menurutnya, tantangan fiskal saat ini dialami hampir seluruh pemerintah daerah akibat menurunnya transfer pusat.
“Daerah harus kreatif meningkatkan PAD, tetapi tanpa membebani masyarakat. Artinya tidak ada skema kenaikan pajak, tapi PAD harus naik,” tegas mantan Kepala Bapenda Kota Malang tersebut.
Ia belum membuka secara rinci sektor mana saja yang akan menjadi sasaran optimalisasi pendapatan. Namun dirinya mengisyaratkan akan terlebih dahulu memetakan potensi bersama tim internal Pemerintah Kota Semarang.
Handi juga mengaku tertarik mengikuti seleksi terbuka di Kota Semarang karena melihat potensi geografis dan ekonomi kota tersebut yang dinilai berbeda dibanding kota besar lain di Pulau Jawa.
“Semarang punya gunung, punya laut, dan investasi yang terus masuk. Itu menunjukkan kota ini punya daya tarik besar bagi dunia swasta,” ungkapnya.
Di hari pertamanya menjabat, Handi belum banyak berbicara soal penanganan persoalan banjir yang masih menjadi pekerjaan rumah tahunan Kota Semarang. Namun ia memastikan seluruh program prioritas wali kota akan dijalankan penuh oleh birokrasi.
“Apapun yang diprogramkan oleh Ibu Wali Kota dan Pak Wakil Wali Kota, kita akan jalankan sebaik-baiknya,” pungkasnya.


















