Keterlibatan peserta difabel mewarnai pelaksanaan Ujian Tulis Berbasis Komputer Seleksi Nasional Berdasarkan Tes (UTBK-SNBT) 2026 di Universitas Brawijaya. Di antara 16.225 peserta yang mengikuti ujian, terdapat 13 peserta difabel yang tetap menjalani seleksi dengan fasilitas khusus yang telah disiapkan kampus.
Ujian berlangsung selama enam hari, mulai 21 hingga 26 April 2026, dalam 11 sesi. Universitas Brawijaya mengoperasikan 67 ruang ujian yang tersebar di 16 fakultas serta Laboratorium Komputer Direktorat Teknologi Informasi. Total 1.540 komputer digunakan, lengkap dengan 10 persen perangkat cadangan untuk mengantisipasi kendala teknis.
Koordinator Pelaksana UTBK UB, Arif Hidayat, menegaskan bahwa perhatian khusus diberikan pada peserta difabel. Mereka terdiri dari enam tunarungu, tiga tunadaksa, dan empat tunanetra. Seluruhnya ditempatkan dalam satu ruang khusus agar lebih mudah dijangkau dan diawasi selama ujian berlangsung.
“Fasilitas sudah kami sesuaikan dengan standar operasional dari panitia pusat. Peserta difabel bisa mengikuti ujian secara mandiri tanpa pendamping karena seluruh kebutuhan sudah difasilitasi,” ujarnya.
Ia juga menyebutkan bahwa jumlah peserta difabel tahun ini mengalami penurunan dibandingkan tahun sebelumnya yang mencapai 16 orang. Meski demikian, komitmen menghadirkan akses pendidikan yang inklusif tetap dijaga.
Dari sisi partisipasi, tingkat kehadiran peserta pada sesi awal mencapai 97,4 persen. Hanya sekitar 40 peserta yang tercatat tidak hadir. Tingginya angka kehadiran tersebut mencerminkan besarnya minat calon mahasiswa untuk mengikuti seleksi di Universitas Brawijaya.
Wakil Rektor Bidang Akademik Prof. Dr. Imam Santoso memastikan seluruh infrastruktur telah dipersiapkan secara maksimal. Setiap lokasi ujian dilengkapi perangkat pendukung seperti CCTV, UPS, hingga genset guna mengantisipasi gangguan listrik. Sistem jaringan juga telah diuji untuk menjaga kestabilan selama ujian berlangsung.
Pengawasan ujian diperketat dengan kombinasi pengawasan langsung dan teknologi. Pemeriksaan dilakukan secara menyeluruh, mulai dari penggunaan metal detector hingga pengecekan detail terhadap aksesori yang berpotensi digunakan untuk kecurangan. Sistem jaringan dibuat tertutup untuk mencegah akses dari luar.
Sebanyak 455 personel dilibatkan dalam pelaksanaan UTBK ini, terdiri dari pengawas, teknisi, penanggung jawab lokasi, hingga tim teknologi informasi. Selain itu, sembilan tim monitoring dan evaluasi turut diterjunkan untuk memastikan seluruh proses berjalan sesuai ketentuan.
Direktur Direktorat Administrasi dan Layanan Akademik, Dr. Rosihan Asmara, menambahkan bahwa pengaturan kendaraan di lingkungan kampus juga diperketat. Kendaraan pengantar hanya diperbolehkan sampai gerbang kampus demi menjaga kelancaran aktivitas ujian.
Di tengah pelaksanaan ujian, persaingan masuk Universitas Brawijaya melalui jalur SNBT tahun ini tergolong sangat ketat. Sebanyak 66.412 pendaftar tercatat memilih UB, sementara kuota yang tersedia hanya 5.793 kursi.
Secara keseluruhan, UB menyediakan sekitar 18.800 kursi mahasiswa baru dengan komposisi 20 persen melalui jalur SNBP, 30 persen SNBT, dan maksimal 50 persen jalur mandiri.
Dengan kesiapan infrastruktur, pengawasan ketat, serta perhatian terhadap peserta difabel, pelaksanaan UTBK di Universitas Brawijaya tahun ini tidak hanya menekankan kualitas seleksi, tetapi juga memastikan prinsip kesetaraan akses bagi seluruh peserta.


















