=========================================
Berita  

KH Ahmad Dahlan “Hadir” di Taman Merjosari, NgabubuRead UMM Ubah Ngabuburit Jadi Ajang Literasi dan Aksi Sosial

banner 120x600

MALANG, PENAJATIM – Suasana Taman Merjosari, Rabu sore 25 Februari 2026, mendadak berbeda. Di tengah keramaian warga yang menanti waktu berbuka, sosok KH Ahmad Dahlan dan istrinya, Siti Walidah, tampak menyapa pengunjung. Meski hadir dalam bentuk cosplay, figur pendiri Muhammadiyah itu sukses menarik perhatian ratusan warga dan menghidupkan kembali semangat literasi, pendidikan, serta kepedulian sosial dalam balutan kegiatan NgabubuRead yang digelar Universitas Muhammadiyah Malang atau UMM.

Menunggu azan magrib kali ini tidak sekadar diisi dengan berburu takjil. UMM menghadirkan konsep ngabuburit produktif yang memadukan hiburan edukatif, aktivitas membaca, hingga aksi berbagi. Taman kota yang biasanya menjadi ruang santai berubah menjadi ruang belajar terbuka yang hangat dan penuh keceriaan.

Kehadiran cosplay KH Ahmad Dahlan dan Siti Walidah bukan sekadar pemanis acara. Sosok tersebut menjadi simbol penguatan nilai literasi dan kepedulian sosial yang menjadi ruh gerakan Muhammadiyah sejak awal berdiri. Spirit pembaruan pendidikan dan keberpihakan pada masyarakat kecil terasa relevan di tengah momentum Ramadan.

Sejak sore hari, antusiasme masyarakat sudah terlihat. Puluhan anak memadati booth UMM untuk mengikuti beragam permainan edukatif, mulai dari mini game golf hingga aktivitas membaca bersama. Musikalisasi puisi turut meramaikan suasana, menciptakan atmosfer ngabuburit yang tidak hanya seru tetapi juga sarat makna.

Keseruan bertambah ketika Mobil Kamis Membaca, perpustakaan keliling milik UMM, hadir membawa ratusan koleksi bacaan yang bisa diakses gratis. Buku-buku cerita bergambar hingga bacaan pengetahuan umum menjadi daya tarik tersendiri bagi anak-anak yang ingin mengisi waktu dengan kegiatan positif.

Kepala Humas UMM, Maharina Novia Zahro, M.Ikom, menjelaskan bahwa NgabubuRead dirancang sebagai ruang produktif bagi masyarakat untuk memanfaatkan waktu menjelang berbuka puasa. Ramadan, menurutnya, menjadi momentum strategis untuk menumbuhkan kebiasaan membaca sekaligus membangun ruang diskusi yang sehat.

“NgabubuRead bukan sekadar aktivitas menunggu waktu berbuka, tetapi menjadi gerakan bersama untuk menguatkan spirit literasi sebagai fondasi kemajuan bangsa,” ujarnya. Ia menambahkan bahwa Ramadan adalah waktu yang tepat untuk memperkaya diri, baik secara spiritual maupun intelektual.

Kegiatan tersebut tidak berhenti pada aktivitas di taman. Setelah rangkaian acara utama selesai, peserta dan panitia melanjutkan dengan membagikan makanan kepada masyarakat di jalan. Aksi ini menjadi wujud konkret kepedulian sosial yang diusung dalam kegiatan tersebut.

Menurut Maharina, langkah berbagi itu merefleksikan spirit Al-Ma’un yang diajarkan KH Ahmad Dahlan, yakni nilai keberagamaan yang diwujudkan dalam tindakan nyata membantu sesama. Literasi, katanya, tidak hanya berhenti pada aktivitas membaca, tetapi juga harus melahirkan empati dan aksi sosial. “Melalui NgabubuRead, kami ingin menanamkan pesan bahwa membaca dan berbagi adalah satu kesatuan gerakan,” tuturnya.

Di antara anak-anak yang larut dalam kegiatan, Naufal mengaku sangat menikmati suasana ngabuburit yang berbeda tersebut. Ia datang bersama teman-temannya dan langsung tertarik melihat mobil perpustakaan keliling yang dipenuhi buku cerita. Baginya, membaca di taman sambil menunggu berbuka menjadi pengalaman baru yang menyenangkan.

Ia juga mengaku senang bisa melihat tokoh sejarah dalam bentuk cosplay karena sebelumnya hanya mengenalnya dari cerita di sekolah. “Rasanya seperti belajar tapi sambil bermain,” katanya dengan wajah antusias.

Naufal berharap kegiatan serupa dapat kembali digelar pada Ramadan berikutnya. Selain mendapatkan teman baru, ia merasa waktu menunggu berbuka terasa lebih cepat dan bermanfaat. “Kalau ada lagi, saya mau ikut lagi. Soalnya seru dan bisa baca banyak buku,” ujarnya.

Melalui NgabubuRead, UMM tidak hanya menghadirkan kegiatan ngabuburit yang kreatif, tetapi juga menegaskan komitmen kampus dalam membangun budaya literasi dan kepedulian sosial di ruang publik. Taman Merjosari pun menjadi saksi bagaimana Ramadan dapat diisi dengan kegiatan yang tidak hanya menghibur, tetapi juga mencerdaskan dan menggerakkan empati.

banner 325x300

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *