PENAJATIM – Perkembangan kecerdasan buatan telah mengubah peta persaingan bisnis digital dalam waktu yang jauh lebih cepat dibandingkan gelombang transformasi teknologi satu dekade lalu. Jika sebelumnya pelaku usaha hanya berfokus pada strategi agar mudah ditemukan melalui mesin pencari, kini mereka juga dituntut memahami bagaimana produk dan merek dapat muncul dalam jawaban yang dihasilkan berbagai platform artificial intelligence.
Perubahan lanskap tersebut menjadi perhatian PT Adi Tjandra Teknologi. Menurut CEO PT Adi Tjandra Teknologi (YPYM), Rochman Ma’arif, dunia pemasaran digital kini memasuki fase baru yang menuntut kemampuan adaptasi lebih tinggi dibandingkan sebelumnya.
“Digital Marketing merupakan topik yang hangat sekali, bahkan saat ini penguasaan digital marketing memiliki value yang besar mengingat dampaknya yang begitu penting dan dibutuhkan keahlian teknis dan non-teknis yang rumit. Hingga pengelolaan anggaran yang harus benar-benar teliti,” ujar Rochman.
Ia menjelaskan, Indonesia pernah mengalami percepatan disrupsi digital pada periode 2015 hingga 2019. Saat itu, pertumbuhan perusahaan rintisan berlangsung sangat pesat dan mendorong perpindahan aktivitas bisnis dari kanal konvensional menuju ekosistem digital. Kondisi tersebut membuat perusahaan berlomba membangun strategi pemasaran berbasis internet untuk mempertahankan pertumbuhan pelanggan.
Namun menurut Rochman, dinamika yang terjadi setelah tahun 2022 jauh lebih sulit diprediksi. Kecepatan inovasi teknologi, khususnya pada bidang kecerdasan buatan, memaksa seluruh pelaku usaha untuk terus menyesuaikan strategi bisnisnya.
“Sejak tahun itu (2022) hingga hari ini, akselerasinya benar-benar sulit diprediksi karena kecepatannya seringkali melampaui proyeksi banyak organisasi dan ahli. Bagi para digital marketers, kita akan melihat bagaimana raksasa perusahaan seperti Google harus melakukan perubahan hampir setiap bulan untuk membuat salah satu mesin uang mereka yaitu Google Search Engine bisa beradaptasi dengan shifting user yang sedang terjadi. Bahkan sampai hari ini,” katanya.
Managing Partner YPYM, Yuliana Kusumawati, menilai perubahan tersebut terlihat jelas dari transformasi yang dilakukan Google dalam beberapa tahun terakhir. Mulai dari kehadiran AI Overview, AI Mode, hingga pengembangan Gemini, seluruh inovasi tersebut menunjukkan bahwa mesin pencari kini bergerak menuju pengalaman pencarian berbasis kecerdasan buatan.
“Untuk menangkap perubahan yang sedang terjadi, Google sekalipun harus merilis begitu banyak produk dengan tujuan utamanya agar relevan dengan user saat ini dalam menjawab pertanyaan miliaran orang setiap waktu, 24 jam sehari dan 7 hari seminggu. Dengan semua hal itu kita juga melihat perubahan besar terjadi pada teori optimasi pada search engine, seperti SEO (Search Engine Optimization), lalu ASO (App Store Optimization), lalu hadirlah Local SEO untuk optimasi bisnis hyper-local,” jelas Yuliana.
Transformasi tersebut turut melahirkan pendekatan baru dalam dunia digital marketing, yakni AEO (Answer Engine Optimization) dan GEO (Generative Engine Optimization). Keduanya berfokus pada bagaimana sebuah merek dapat muncul sebagai jawaban di berbagai platform berbasis AI, bukan hanya tampil dalam daftar hasil pencarian seperti konsep SEO yang selama ini dikenal.
Menurut Yuliana, kemampuan memahami algoritma Google saja kini tidak lagi mencukupi. Pelaku usaha juga harus memahami karakter berbagai platform AI generatif yang mulai digunakan masyarakat sebagai sumber informasi.
“Jika saat istilah SEO begitu populer kita dituntut untuk memahami logika dan pola kerja Google Search Engine, maka dalam istilah GEO kita harus paham bagaimana cara kerja dari Claude AI, Perplexity, ChatGPT buatan OpenAI, Gemini milik Google, DeepSeek, Grok dari X AI, dan puluhan Chatbot pintar lainnya,” ungkapnya.
Perubahan perilaku konsumen turut memperluas titik temu antara bisnis dan calon pelanggan. Jika sebelumnya Google dan Meta menjadi pusat lalu lintas digital, kini konsumen tersebar di berbagai platform seperti ChatGPT, Perplexity, Shopee, Tokopedia, Traveloka, YouTube, TikTok, Instagram, Discord hingga Twitch. Kondisi ini membuat strategi pemasaran digital menjadi jauh lebih kompleks karena setiap platform memiliki karakteristik, algoritma, serta pola interaksi pengguna yang berbeda.
Atas dasar itu, PT Adi Tjandra Teknologi menilai pelaku usaha membutuhkan strategi yang lebih terukur sekaligus pendampingan dari mitra digital yang memahami perubahan ekosistem tersebut. Dengan pendekatan yang tepat, perusahaan dapat mengoptimalkan penggunaan anggaran pemasaran, meningkatkan efisiensi, sekaligus menjaga peluang pertumbuhan bisnis di tengah cepatnya perkembangan teknologi berbasis kecerdasan buatan.

















