PENAJATIM – Perkembangan kendaraan listrik di Indonesia menunjukkan tren positif, namun realitas di lapangan mengindikasikan bahwa penggunaannya masih jauh dari dominan. Di tengah dorongan pemerintah dan meningkatnya perhatian terhadap energi bersih, adopsi kendaraan listrik belum mampu menyaingi kendaraan berbasis bahan bakar fosil.
Data terbaru memperlihatkan bahwa penetrasi kendaraan listrik di Indonesia masih sangat terbatas. Di Jakarta misalnya, motor listrik hanya mencakup sekitar 1,1% dari total kendaraan yang beroperasi, sementara mobil listrik berada di kisaran 2,4%. Angka ini menegaskan bahwa kendaraan listrik belum menjadi pilihan utama masyarakat dalam mobilitas sehari-hari.
Meski demikian, pertumbuhan tetap terjadi. Penjualan mobil listrik terus meningkat dalam beberapa tahun terakhir. Pada 2023, distribusi mobil listrik mencapai lebih dari 17 ribu unit, naik signifikan dibanding tahun sebelumnya. Lonjakan ini menunjukkan adanya minat pasar, meskipun skalanya belum cukup besar untuk mengubah komposisi kendaraan secara nasional.
Salah satu faktor utama yang menahan laju adopsi adalah harga. Survei menunjukkan mayoritas masyarakat menilai kendaraan listrik masih terlalu mahal. Selain itu, kekhawatiran terhadap daya baterai dan keterbatasan fasilitas pengisian turut menjadi pertimbangan penting.
Di sisi lain, pembangunan infrastruktur mulai menunjukkan kemajuan. Hingga 2024, jumlah stasiun pengisian kendaraan listrik umum (SPKLU) telah mencapai lebih dari 3.200 unit, meningkat drastis dibanding tahun sebelumnya. Pertumbuhan ini menjadi sinyal bahwa ekosistem kendaraan listrik sedang dibangun secara bertahap.
Namun, keberhasilan adopsi kendaraan listrik tidak hanya bergantung pada infrastruktur. Faktor kebijakan, insentif, serta kesiapan masyarakat memainkan peran krusial. Sejumlah negara seperti Norwegia berhasil mendorong dominasi kendaraan listrik melalui kombinasi insentif agresif dan dukungan infrastruktur yang matang—sesuatu yang masih dalam proses di Indonesia.
Menariknya, terdapat contoh unik di dalam negeri. Di wilayah Agats, Papua Selatan, kendaraan listrik justru menjadi solusi utama transportasi. Lebih dari 5.000 unit motor listrik telah digunakan sejak lama, didorong oleh kondisi geografis dan kebutuhan efisiensi energi. Fenomena ini menunjukkan bahwa adopsi kendaraan listrik bisa berkembang pesat jika sesuai dengan kebutuhan lokal.
Secara keseluruhan, peluang kendaraan listrik menjadi mayoritas di Indonesia masih terbuka, tetapi membutuhkan waktu. Tanpa percepatan dari sisi harga, infrastruktur, dan edukasi publik, kendaraan listrik kemungkinan besar masih akan menjadi segmen kecil dalam beberapa tahun ke depan.


















