PENAJATIM – Sore itu, suasana di Markas Batalyon B Pelopor Satbrimob Polda Jawa Timur di Pakis, Kabupaten Malang, terasa berbeda dari biasanya. Area yang sehari-hari identik dengan kedisiplinan dan kesiapsiagaan pasukan elite kepolisian, mendadak dipenuhi wajah-wajah ceria anak-anak yatim yang datang membawa harapan sederhana: kebersamaan di bulan Ramadhan.
Puluhan anak dari Yayasan Al-Mustofa Pakis duduk berdampingan dengan para anggota Brimob. Tidak ada jarak yang terasa. Seragam loreng yang biasanya identik dengan tugas pengamanan berubah menjadi simbol kehangatan ketika tangan-tangan kecil itu menerima santunan dan perhatian.
Dansatbrimob Polda Jawa Timur, Suryo Sudarmadi, hadir langsung dalam momentum Safari Ramadhan tersebut bersama para pejabat utama Satbrimob. Bagi Suryo, kegiatan ini bukan sekadar agenda seremonial, melainkan pengingat bahwa pengabdian aparat keamanan juga memiliki dimensi kemanusiaan.
“Ramadhan adalah waktu yang tepat untuk memperkuat nilai kepedulian. Tugas menjaga keamanan memang penting, tetapi kita juga harus memastikan bahwa empati kepada masyarakat tetap hidup,” ujarnya.
Ia menegaskan bahwa kedekatan antara aparat dan masyarakat menjadi fondasi penting dalam menjaga stabilitas sosial. Karena itu, ruang-ruang kebersamaan seperti ini perlu terus dibangun, terutama dengan kelompok yang membutuhkan perhatian lebih.
Di sisi lain, Suryo juga mengingatkan para anggota agar tetap meningkatkan kewaspadaan terhadap dinamika global yang terus berkembang. Menurutnya, perubahan situasi dunia dapat berdampak pada kondisi keamanan di dalam negeri sehingga kesiapan personel harus selalu dijaga.
“Anggota harus mampu membaca situasi yang berkembang. Tantangan ke depan semakin kompleks, sehingga soliditas dan kesiapsiagaan tidak boleh lengah,” tegasnya.
Nuansa religius dalam kegiatan tersebut semakin terasa ketika lantunan shalawat dari tim banjari Batalyon B Pelopor menggema di dalam markas. Suara rebana dan pujian kepada Nabi Muhammad SAW menjadi pengingat bahwa Ramadhan bukan hanya tentang menahan lapar, tetapi juga tentang memperkuat spiritualitas.
Tausiyah yang disampaikan Ustadz Maliki An Naha’i turut menambah kedalaman makna dalam pertemuan itu. Ia mengajak seluruh yang hadir untuk menjadikan Ramadhan sebagai momentum memperbaiki diri sekaligus memperluas kepedulian terhadap sesama.
Bagi anak-anak yatim yang hadir, pengalaman duduk bersama anggota Brimob di dalam markas tentu menjadi kenangan tersendiri. Mereka tidak hanya menerima santunan, tetapi juga merasakan perhatian yang mungkin jarang mereka dapatkan dalam keseharian.
Salah satu pengurus Yayasan Al-Mustofa menyebut kebersamaan tersebut memberi semangat baru bagi anak-anak.
“Anak-anak merasa sangat diperhatikan. Mereka senang bisa berada di sini dan merasakan kebersamaan dengan para anggota Brimob,” ujarnya.
Menjelang waktu berbuka, suasana semakin hangat. Anak-anak, anggota Brimob, dan para pejabat duduk bersama menunggu azan Magrib. Di meja yang sama, tidak ada perbedaan latar belakang—yang ada hanyalah kebersamaan dalam memaknai Ramadhan.
Di tengah tuntutan tugas menjaga keamanan, momen seperti ini menjadi pengingat bahwa kekuatan sebuah institusi tidak hanya diukur dari ketegasan, tetapi juga dari kepedulian terhadap masyarakat yang dilayaninya.
















